Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Tuesday, May 28, 2013

Selimut Perpisahan

Selimut Perpisahan

Banyak riwayat Rasulullah telah mengetahui tentang kematian Sy husein jauh sebelum beliau dilahirkan...salah satunya :
Ada yg meriwayatkan :
Ketika Sy khadijah Al kubro, istri tercinta Rasulullah menjelang wafatnya, memanggil putri tersayangnya Sy fatimah yg diwaktu itu masih berusia 9 th. Dengan penuh kasih sayang berkata :
" wahai anakku....
sptnya aku tdk akan lama lagi di dunia yg fana ini....temuilah ayahmu, mintalah Surban miliknya utk kujadikan selimut dan kain kafanku kelak....semoga itu memberiku faedah dan ketenangan dalam menemui Rabb ku...."
Dengan penuh ketaatan, anak mungil itupun bergegas menemui ayahnya dan dengan perhatian dan kasih sayang Rasulullah pun menyambut dan menggendong serta mencium kening anak perempuannya yg paling disayanginya. Dengan kepolosannya anak itu menyampaikan apa yg diamanahkan oleh Ibunda tercinta...
Rasulullah pun terhanyut dan terharu....Disaat Rasulullah ingin menemui istrinya, turun malaikat Jibril as sambil membawa 5 selimut dan berkata :
"yaa rasululah, ke 5 selimut ini dr Allah azza wa jallah, aku diperintahkan utk memberikannya utk keluargamu"

lalu kemudian Beliau berkata:
"Untuk siapakah kelima selimut itu"
kemudian dijawab oleh Jibril as :

" 1 buat Istrimu khadijah
  2 buat Engkau yaa rasulullah
  3 buat sy fatimah anak tersayangmu
  4 buat menantumu sy ali
  5. buat sy hasan anak dr fatimah....
lalu tiba2 Jibril terhenti lama........
kemudian Rasulullah berkata :
 "wahai jibril mengapa engkau terhenti..." 
Jibril tdk menyahut dan tetap diam....
Lalu beliau berkata :

"wahai jibril katakan kepadaku apa yg ingin km sampaikan..." 
dan mengulang2 sampai 3x...kemudian dijawab oleh jibril as :
"yaa rasulullah....sebenarnya ada satu anakmu, yakni sy husein yg meninggal dlm mempertahankan kebenaran dan melawan kebatilan yang akan dibantai oleh umatmu kelak....."
 
abdkadiralhamid@2013

Sunday, May 26, 2013

Kisah Sayyidina Rosulullah SAW Dengan Wanita Tua




Kisah Sayyidina Rosulullah SAW Dengan Wanita Tua 


Tersebutlah seorang wanita tua yang sedang melintasi gurun pasir dengan membawa beban yang berat. Walaupun tampak sangat kepayahan, namun ia tetap berusaha membawa barang bawaannya dengan sekuat tenaga. Tak lama kemudian, seorang laki-laki muda datang dan menawarkan diri untuk mengangkat bawaannya. Wanita malang itu menerima tawaran tersebut dengan senang hati. Laki-laki itu pun mengangkat bawaannya kemudian mereka berjalan beriringan.

“Senang sekali kamu mau membantu dan menemani, saya sangat menghargainya”, kata wanita itu. Ternyata ia adalah seorang wanita yang senang berbicara. Laki-laki itu pun dengan sabar mendengarkan sambil tersenyum tanpa pernah menginterupsinya. Suatu saat dia berkata pada laki-laki tersebut, “Anak muda, selama kita berjalan bersama, saya hanya punya satu permintaan. Jangan berbicara apapun tentang Muhammad! Gara-gara dia, tidak ada lagi rasa damai dan saya sangat terganggu dengan pemikirannya. Jadi sekali lagi, jangan berbicara apapun tentang Muhammad!”.

Dia lalu melanjutkan lagi, “Orang itu benar-benar membuat saya kesal. Saya selalu mendengar nama dan reputasinya kemanapun saya pergi. Dia dikenal berasal dari keluarga dan suku yang terpercaya, tapi tiba-tiba dia memecah belah orang-orang dengan mengatakan bahwa tuhan itu satu.”

“Dia menjerumuskan orang yang lemah, orang miskin, dan budak-budak. Orang-orang itu berpikir mereka akan dapat menemukan kekayaan dan kebebasan dengan mengikuti jalannya,” wanita itu melanjutkan dengan kesal. “Dia merusak anak-anak muda dengan memutarbalikkan kebenaran. Dia meyakinkan mereka bahwa mereka kuat dan bahwa ada suatu tujuan yang bisa diraih. Jadi anak muda, jangan sekali-kali kamu berbicara tentang Muhammad!”

Tak lama kemudian, mereka sampai ke tempat tujuan. Laki-laki itu menurunkan barang bawaannya. Wanita tua itu menatapnya sambil tersenyum penuh terima kasih. “Terima kasih banyak, anak muda. Kamu sangat baik. Kemurahan hati dan senyuman kamu itu sangat jarang saya temukan. Biarkan saya memberi kamu satu nasihat. Jauhi Muhammad! Jangan pernah memikirkan kata-katanya atau mengikuti jalannya. Kalau kamu lakukan itu, kamu tidak akan pernah mendapatkan ketenangan. Yang ada hanya masalah.”

Pada saat laki-laki itu berbalik menjauh, wanita itu menghentikannya, “Maaf, sebelum kita berpisah, boleh saya tahu namamu, anak muda?” Lalu laki-laki itu memberitahukannya dan wanita itu terkejut setengah mati.

“Maaf, apa yang kamu bilang? Kata-katamu tidak terdengar jelas. Telinga saya semakin tua, terkadang saya tidak bisa mendengar dengan baik. Kelihatannya lucu, saya pikir tadi saya mendengar kamu mengucapkan Muhammad.”

“Saya Muhammad,” laki-laki itu mengulang kata-katanya lagi pada wanita tua itu.

Wanita itu terpaku memandangi Rasulullah SAW. Tak berapa lama meluncur kata-kata dari mulutnya, “Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.“

Demikianlah Rasulullah SAW. Hanya dengan dua kata dari mulutnya yang mulia, serta dibekali dengan kerendahan hati, kesabaran, dan kewibawaan yang luar biasa, beliau sanggup mengubah hati seorang wanita tua yang sebelumnya sangat membencinya menjadi mencintainya hanya dalam waktu singkat.

Betapa agungnya pribadi Beliau..


2013@abdkadiralhamid

DIALOG SYEKH ABDUL QADIR JAILANI RA DAN MALAIKAT MAUT

DIALOG SYEKH ABDUL QADIR JAILANI RA DAN MALAIKAT MAUT

Dalam ceramah di akhir bulan Rajab 546 H di Madrasah, Syekh Abdul Qadir Jailani menuturkan:
Imam Junaid Al-Baghdadi rahimahullah sering kali mengatakan :
“Apa yang dapat kuperbuat terhadap diriku? Aku ini hanya seorang hamba dan milik Majikanku.” 
Dia telah menyerahkan dirinya kepada Allah, tidak memiliki pilihan lain selain terhadap-Nya dan tidak mengusik-Nya. Junaid telah rela dengan apa pun yang ditakdirkan kepadanya. Hatinya telah menjadi baik dan nafsunya telah tenang.

Dia telah mengamalkan firman Allah Azza wa Jalla, “Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang
telah menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (QS Al-‘Araf:
196)
Pada suatu malam, aku mengingat kematian, dan aku menangis dari awal malam hingga waktu sahur
tiba. Aku berdoa, “Ya Tuhanku, aku mohon kepadamu agar malaikat mautt tidak mencabut nyawaku,
tapi Engkau sendiri yang mencabutnya.

” Kemudian, aku tertidur, lalu aku bermimpi melihat seorang
tua yang mengagumkan dan menawan. Dia kemudian masuk dari arah pintu, dan aku bertanya
kepadanya: “Siapakah engkau?”

Lalu, dia menjawab, “Aku malaikat maut.”

Aku katakan kepadanya, “Aku telah meminta kepada Allah agar Dia sendiri yang mencabut nyawaku,
bukan engkau yang akan mencabutnya.”

Malaikat itu balik bertanya, “Lalu mengapa engkau meminta hal itu? Apa dosaku? Aku hanyalah hamba yang mengikuti perintah. Aku diperintahkan bersikap lemah lembut terhadap suatu kaum dan bersikap kasar kepada kaum yang lainnya.” Kemudian, dia memelukku dan menangis, maka aku pun menangis bersamanya.

Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata :
“Betapa banyak hati yang terbakar oleh kecintaan kepada dunia, padahal di dadanya ada Al-Quran. Sementara, banyak orang saleh yang selalu bangun malam mendirikan shalat malam, beramar makruf nahi munkar. Tangan mereka itu terbelenggu oleh sikap wara’ sehingga meninggalkan dunia, dan keinginan mereka mencari Tuhan mereka begitu kuat. Maka,
infakkan harta kalian kepada mereka itu. Sebab, di kemudian hari mereka itu akan mendapatkan
kekuasaan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.”

---Dikutip dari kitab Fath Rabbani.
 abdkadiralhamid@2013

Saturday, May 25, 2013

KISAH BERPISAHNYA ROH DARI JASAD

 

KISAH BERPISAHNYA ROH DARI JASAD

Dalam sebuah hadith daripada Aisyah r.a katanya, "Aku sedang duduk bersila di dalam rumah. Tiba-tiba Rasulullah S.A.W datang dan masuk sambil memberi salam kepadaku. Aku segera bangun kerana menghormati dan memuliakannya sebagaimana kebiasaanku di waktu baginda masuk ke dalam rumah. Nabi S.A.W bersabda, "Duduklah di tempat duduk, tidak usahlah berdiri, wahai Ummul Mukminin." Maka Rasulullah S.A.W duduk sambil meletakkan kepalanya di pangkuanku, lalu baginda berbaring dan tertidur.

Maka aku hilangkan uban pada janggutnya, dan aku dapat 19 rambut yang sudah putih. Maka terfikirlah dalam hatiku dan aku berkata, "Sesungguhnya baginda akan meninggalkan dunia ini sebelum aku sehingga tetaplah satu umat yang ditinggalkan olehnya nabinya." Maka aku menangis sehingga mengalir air mataku jatuh menitis pada wajah baginda.
Baginda terbangun dari tidurnya seraya bertanya, "Apakah sebabnya sehingga engkau menangis wahai Ummul Mukminin?" Masa aku ceritakan kisah tadi kepadanya, lalu Rasulullah S.A.W bertanya, "Keadaan bagaimanakah yang hebat bagi mayat?" Kataku, "Tunjukkan wahai Rasulullah!"

Rasulullah S.A.W berkata, "Engkaulah katakan!," Jawab Aisyah r.a : "Tidak ada keadaan lebih hebat bagi mayat ketika keluarnya mayat dari rumahnya di mana anak-anaknya sama-sama bersedih hati di belakangnya. Mereka sama-sama berkata, "Aduhai ayah, aduhai ibu! Ayahnya pula mengatakan: "Aduhai anak!"
Rasulullah S.A.W bertanya lagi: "Itu juga termasuk hebat. Maka, manakah lagi yang lebih hebat daripada itu?" Jawab Aisyah r.a : "Tidak ada hal yang lebih hebat daripada mayat ketika ia diletakkan ke dalam liang lahad dan ditimbuni tanah ke atasnya. Kaum kerabat semuanya kembali. Begitu pula dengan anak-anak dan para kekasihnya semuanya kembali, mereka menyerahkan kepada Allah berserta dengan segala amal perbuatannya." Rasulullah S.A.W bertanya lagi, "Adakah lagi yang lebih hebat daripada itu?" Jawab Aisyah, "Hanya Allah dan Rasul-Nya sahaja yang lebih tahu."

Maka bersabda Rasulullah S.A.W : "Wahai Aisyah, sesungguhnya sehebat-hebat keadaan mayat ialah ketika orang yang memandikan masuk ke rumahnya untuk emmandikannya. Maka keluarlah cincin di masa remaja dari jari-jarinya dan ia melepaskan pakaian pengantin dari badannya. Bagi para pemimpin dan fuqaha, sama melepaskan serban dari kepalanya untuk dimandikan.
Di kala itu rohnya memanggil, ketika ia melihat mayat dalam keadaan telanjang dengan suara yang seluruh makhluk mendengar kecuali jin dan manusia yang tidak mendengar. Maka berkata roh, "Wahai orang yang memandikan, aku minta kepadamu kerana Allah, lepaskanlah pakaianku dengan perlahan-lahan sebab di saat ini aku berehat dari kesakitan sakaratul maut." Dan apabila air disiram maka akan berkata mayat, "Wahai orang yang memandikan akan roh Allah, janganlah engkau menyiram air dalam keadaan yang panas dan janganlah pula dalam keadaan sejuk kerana tubuhku terbakar dari sebab lepasnya roh," Dan jika merea memandikan, maka berkata roh: "Demi Allah, wahai orang yang memandikan, janganlah engkau gosok tubuhku dengan kuat sebab tubuhku luka-luka dengan keluarnya roh."

Apabila telah selesai dari dimandikan dan diletakkan pada kafan serta tempat kedua telapaknya sudah diikat, maka mayat memanggil, "Wahai orang yang memandikanku, janganlah engkau kuat-kuatkan dalam mengafani kepalaku sehingga aku dapat melihat wajah anak-anakku dan kaum keluargaku sebab ini adalah penglihatan terakhirku pada mereka. Adapun pada hari ini aku dipisahkan dari mereka dan aku tidakakan dapat berjumpa lagi sehingga hari kiamat."
Apabila mayat dikeluarkan dari rumah, maka mayat akan menyeru, "Demi Allah, wahai jemaahku, aku telah meninggalkan isteriku menjadi janda, maka janganlah kamu menyakitinya. Anak-anakku telah menjadi yatim, janganlah menyakiti mereka. Sesungguhnya pada hari ini aku akan dikeluarkan dari rumahku dan meninggalkan segala yang kucintai dan aku tidak lagi akan kembali untuk selama-lamanya.­"

Apabila mayat diletakkan ke dalam keranda, maka berkata lagi mayat, "Demi Allah, wahai jemaahku, janganlah kamu percepatkan aku sehingga aku mendengar suara ahliku, anak-anakku dan kaum keluargaku. Sesungguhnya hari ini ialah hari perpisahanku dengan mereka sehingga hari kiamat."
(1001 KISAH TELADAN)

Ya Allah...

✔ Muliakanlah orang yang membaca status ini
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit, Fitnah, Prasangka Keji, Berkata Kasar, dan Mungkar
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang me-LIKE dan membagikan status ini...

Aamiin ya Rabb....
abdkadiralhamid@2013

Friday, May 24, 2013

Sebuah Kisah di Balik Isra’ Mi’raj Nabi SAW


Sebuah Kisah di Balik Isra’ Mi’raj Nabi SAW


Kisah percakapan, atau lebih tepat dikatakan perdebatan antara mahluk Allah yang bernama bumi dan langit juga menjadi salah satu sebab Allah memperjalankan dan mengundang Nabi SAW untuk menembus langit demi langit untuk langsung menghadap kepada-Nya. Percakapan yang sifatnya membanggakan diri ini mungkin mirip dengan kebanggaan Iblis ketika ia menolak perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam AS, “Saya lebih baik daripada dia…dst…!!”




Perbedaan mendasarnya, kalau Iblis membanggakan dzat dan amal kebaikan dirinya yang dengan itu ia menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam, sebagai bentuk penghormatan, bukan peribadatan. Sedangkan kebanggaan langit dan bumi, sebagai bentuk syukur atas karunia dan kelimpahan yang diberikan Allah kepadanya. Karena itulah iblis menuai laknat dan kutukan Allah hingga hari kiamat tiba akibat kebanggaannya yang berlebihan, sementara Allah justru menambah karunianya kepada langit, yang kalah dalam perdebatannya dengan bumi.




Semua itu berawal ketika bumi membanggakan dirinya kepada langit, “Aku lebih baik daripada dirimu, karena Allah menghiasi aku dengan berbagai negeri, lautan, sungai-sungai, pohon-pohon, gunung-gunung dan lain-lainnya.”




Langit berkata kepada bumi, “Justru aku yang lebih baik dari dirimu, Allah telah menghiasi diriku dengan matahari, bintang-bintang, bulan, cakrawala, planet-planet dan lain sebagainya.”




Bumi berkata lagi, “Padaku terdapat rumah (Baitullah, Ka’bah) yang selalu dikunjungi oleh para Nabi, para Rasul, para wali dan orang-orang mukmin secara umum, dan mereka selalu berthawaf kepadanya!!”




Langit tidak mau kalah, ia berkata, “Padaku ada Baitul Ma’mur, di mana para malaikat selalu berthawaf kepadanya. Padaku juga terdapat surga, yang merupakan tempat ruh para Nabi, ruh para Rasul, ruh para wali dan semua ruh orang-orang yang saleh!!”




Bumi berkata lagi, “Sesungguhnya pimpinan para rasul dan penutup para nabi, Kekasih Allah, Tuhan semesta alam, seorang rasul yang paling mulia dari segala yang ada, Muhammad SAW, yang semoga salam dan penghormatan selalu terlimpah kepadanya, ia tinggal dan menetap pada diriku, dan ia menjalankan syariatnya di atas punggungku!!”




Mendengar perkataan bumi yang membanggakan akan keberadaan Nabi SAW pada dirinya, langit tidak bisa memberikan argumentasi tandingan yang sepadan. Ia tahu bahwa Nabi SAW adalah mahluk termulia dan yang paling dicintai oleh Allah, dan faktanya tidak pernah sekalipun Nabi SAW menjejakkan kaki pada dirinya, apalagi membuat aktivitas-aktivitas yang membekas dan memberi kesan tersendiri pada beliau. Langit hanya terdiam, merasa kalah dan terpojok dengan dibandingkan posisi bumi.




Tetapi kemudian langit menghadapkan diri kepada Allah dan berdoa, “Ya Allah, Engkau selalu mengabulkan segala permintaan hamba-hamba-Mu yang dalam keadaan terdesak atau terjepit. Ya Allah, saat ini aku adalah hamba-Mu yang dalam keadaan terdesak dan tidak dapat memberikan jawaban yang sepadan kepada bumi!!”




Allah memperkenankan doa langit tersebut. Saat itu adalah tanggal duapuluh tujuh Rajab, Allah berfirman, “Wahai Jibril, hentikan dahulu tasbihmu pada malam ini!! Wahai Izrail, pada malam ini janganlah engkau mencabut ruh terlebih dahulu!!”




Jibril berkata, “Ya Allah, Apakah kiamat telah tiba masanya!!”




Memang, Jibril dan malaikat-malaikat lainnya tidak akan pernah berhenti melantunkan Tasbih kepada Allah, apapun keadaannya, kecuali jika hari kiamat telah tiba. Allah berfirman lagi, “Tidak, wahai Jibril, tetapi pergilah engkau ke surga, bawalah salah satu buraq di sana dan bawalah Muhammad datang menghadap-Ku malam ini!!”




Jibril segera memenuhi perintah Allah, ia datang ke surga dan dan melihat empatpuluh ribu Buraq sedang merumput di padang rumput surga, pada kening-kening buraq itu tertulis nama Muhammad SAW. Tampak satu buraq menunduk dan air matanya terus mengalir, tidak merumput seperti yang lainnya. Jibril menghampirinya dan berkata, “Apa yang terjadi dengan dirimu, wahai buraq!!”




Buraq itu berkata, “Wahai Jibril, sejak empatpuluh tahun yang lalu aku mendengar nama Muhammad SAW, dan hatiku terbakar rindu untuk bisa bertemu dengannya. Kerinduan itu begitu meliputiku sehingga aku tidak bisa lagi makan dan minum, kecuali aku telah bertemu dengan beliau!!”




Jibril tersenyum dan berkata, “Aku akan menyampaikan dirimu kepada orang yang selama ini kamu rindukan. Malam ini juga engkau akan bertemu dengan Muhammad SAW!!”




Kemudian Jibril memasang pelana dan tali pengikat dari sutera surga pada buraq itu dan membawanya turun ke bumi. Setelah selesainya peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi SAW, langit bisa memberikan argumentasi kepada bumi dan ia merasa kedudukannya cukup sejajar dengan bumi.


abdkadiralhamid@2013

Wednesday, May 22, 2013

Kisah Haji Abdullah bin al-Mubarak


Kisah Haji Abdullah bin al-Mubarak

Abdullah bin al-Mubarak hidup di Mekkah. Pada suatu waktu, setelah menyelesaikan ritual ibadah haji, dia tertidur dan bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit.


“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.

“600.000,” jawab malaikat lainnya.

“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”

“Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar. “Apa?” aku menangis. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasing yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

“Ada seorang tukang sepatu di Damaskus yang dipanggil Ali bin Mowaffaq.” Kata malaikat yang pertama. “Dia tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni.”

Ketika aku mendengar hal ini, aku terbangun dan memutuskan untuk pergi menuju Damaskus dan mengunjungi orang ini. Jadi aku pergi ke Damaskus dan menemukan tempat dimana ia tinggal. Aku menyapanya dan ia keluar. “ Siapakah namamu dan pekerjaan apa yang kau lakukan?” tanyaku. “Aku Ali bin Mowaffaq, penjual sepatu. Siapakah namamu?”

Kepadanya aku mengatakan Abdullah bin al-Mubarak. Ia tiba-tiba menangis dan jatuh pingsan. Ketika ia sadar, aku memohon agar ia bercerita kepadaku. Dia mengatakan: “Selama 40 tahun aku telah rindu untuk melakukan perjalanan haji ini. Aku telah menyisihkan 350 dirham dari hasil berdagang sepatu. Tahun ini aku memutuskan untuk pergi ke Mekkah, sejak istriku mengandung. Suatu hari istriku mencium aroma makanan yang sedang dimasak oleh tetangga sebelah, dan memohon kepadaku agar ia bisa mencicipinya sedikit. Aku pergi menuju tetangga sebelah, mengetuk pintunya kemudian menjelaskan situasinya. Tetanggaku mendadak menagis. “Sudah tiga hari ini anakku tidak makan apa-apa,” katanya. “Hari ini aku melihat keledai mati tergeletak dan memotongnya kemudian memasaknya untuk mereka. Ini bukan makanan yang halal bagimu.” Hatiku serasa terbakar ketika aku mendengar ceritanya. Aku mengambil 350 dirhamku dan memberikan kepadanya. “Belanjakan ini untuk anakmu,” kataku. “Inilah perjalanan hajiku.”

“Malaikat berbicara dengan nyata di dalam mimpiku,” kata Abdullah, “dan Penguasa kerajaan surga adalah benar dalam keputusanNya.”

******

Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi lahir pada tahun 118 H/736 M. Ia adalah seorang ahli Hadits yang terkemuka dan seorang petapa termasyhur. Ia sangat ahli di dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, antara lain di dalam bidang gramatika dan kesusastraan. Ia adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Ia meninggal dunia di kota Hit yang terletak di tepi sungai Euphrat pada tahun 181 H/797 M.

*********

Kisah di atas diambil dari buku “Warisan Para Awliya” karya Farid al-Din Attar.

abdkadiralhamid@2013

Kisah Cinta Abu Mubarak


Inilah kisah indah percintaan seorang tabi’in mulia. Namanya Mubarak.
Dulu, Mubarak itu seorang hamba. Tuannya memerdekakannya kerana keluhuran pekerti dan kejujurannya. Setelah merdeka ia bekerja pada seorang kaya raya yang memiliki kebun delima yang cukup luas. Ia bekerja sebagai penjaga kebun itu. Keramahan dan kehalusan tutur sapanya, membuatnya disenangi semua temannya dan penduduk di sekitar kebun.
Suatu hari pemilik kebun itu memanggilnya dan berkata: “Mubarak, tolong petikkan buah delima yang manis dan masak!”
Mubarak seketika itu bergegas ke kebun. Ia memetikkan beberapa buah dan membawanya pada Tuannya. Ia menyerahkan pada Tuannya. Majikannya mencuba delima itu dengan penuh semangat. Namun apa yang terjadi, ternyata delima yang dipetik Mubarak rasanya masam dan belum masak. Ia mencuba satu persatu dan semuanya tidak ada yang manis dan masak..
Pemilik kebun itu gusar dan berkata: ”Apakah kau tidak dapat membedakan mana yang masak dan yang belum masak? Mana yang manis dan mana yang masam?”
“Maafkan saya Tuan, saya sama sekali belum pernah merasakan delima. Bagaimana saya boleh merasakan yang manis dan yang kecut,” jawab Mubarak.
“Apa? Kamu sudah sekian tahun bekerja di weesini dan menjaga kebun delima yang luas yang telah berpuluh kali berbuah dan kau katakan belum merasakan delima. Kau berani berkata seperti itu!” Pemilik kebun itu marah merasa dipermainkan.
“Demi Allah Tuan, saya tidak pernah memetik satu butir buah delima pun. Bukankah anda hanya memerintahkan saya menjaganya dan tidak memberi izin pada saya untuk memakannya?” lirih Mubarak.
Mendengar ucapan itu pemilik kebun itu tersentak. Namun ia tidak langsung percaya begitu saja. Ia lalu pergi bertanya kepada teman-teman Mubarak dan tetangga disekitarnya tentang kebenaran ucapan Mubarak. Teman-temannya mengakui tidak pernah melihat Mubarak makan buah delima. Juga tetangganya.
Seorang temannya bersaksi: “Ia seorang yang jujur, selama ini tidak pernah berbohong. Jika ia tidak pernah makan satu buah pun sejak bekerja disini bererti itu benar.”
***
Kejadian itu benar-benar menyentuh hati sang pemilik kebun. Diam-diam ia kagum dengan kejujuran pekerjanya itu.
Untuk lebih meyakinkan dirinya, ia kembali memanggil Mubarak:
“Mubarak, sekali lagi, apakah benar kau tidak makan satu buah pun selama menjaga kebun ini?”
“Benar Tuan.”
“Berilah aku alasan yang boleh aku terima!”
“Aku tidak tahu apakah Tuan akan menerima penjelasanku apa tidak. Saat aku pertama kali datang untuk bekerja menjaga kebun ini, Tuan mengatakan tugas saya hanya menjaga. Itu aqadnya. Tuan tidak mengatakan aku boleh merasakan delima yang aku jaga. Selama ini aku menjaga agar perutku tidak dimasuki makanan yang syubhat apalagi haram. Bagiku kerana tidak ada izin yang jelas dari Tuan, maka aku tidak boleh memakannya.”
“Meskipun itu delima yang jatuh di tanah, Mubarak?”
“Ya, meskipun delima yang jatuh ditanah. Sebab itu bukan milikku, tidak halal bagiku. Kecuali jika pemiliknya mengizinkan aku boleh memakannya.”
Kedua mata pemilik kebun itu berkaca-kaca. Ia sangat tersentuh dan terharu. Ia mengusap air matanya dengan sapu tangan dan berkata, “Hai Mubarak, aku hanya memiliki seorang anak perempuan. Menurutmu aku mengahwinkannya dengan siapa?”
Mubarak menjawab:  “Orang-orang Yahudi mengahwinkan anaknya dengan seseorang kerana harta. Orang Nasrani mengahwinkan kerana keindahan. Dan orang Arab mengahwinkan kerana nasab dan keturunannya. Sedangkan orang Muslim mengahwinkan anaknya pada seseorang kerana melihat iman dan taqwanya. Anda tinggal memilih, mahu masuk golongan yang mana? Dan kahwinkanlah puterimu dengan orang yang kau anggap satu golongan denganmu.”
Pemilik kebun berkata: ”Aku rasa tak ada orang yang lebih bertakwa darimu.”
Akhirnya pemilik kebun itu mengahwinkan puterinya dengan Mubarak. Puteri pemilik kebun itu ternyata gadis cantik yang solehah dan cerdas. Ia hafal kitab Allah dan mengerti sunnah NabiNya. Dengan kejujuran dan ketaqwaan, Mubarak memperoleh nikmat yang agung dari Allah SWT. Ia hidup dalam syurga cinta. Dari percintaan pasangan mulia itu lahirlah seorang anak lelaki yang diberi nama“Abdullah”. Setelah dewasa anak ini dikenal dengan sebutan “Imam Abdullah bin Mubarak” atau “Ibnu Mubarak”, seorang ulama di kalangan tabi’in yang sangat terkenal. Selain dikenali sebagai ahli hadis, Imam Abdullah bin Mubarak juga dikenali sebagai ahli zuhud. Kedalaman ilmu dan ketaqwaannya banyak diakui ulama pada zamannya.
Inilah Buah cinta yang Berasaskan Ketaqwaan, semoga kita dianugerahkan cinta yang disertai ketaqwaan.

Pahlawan Neraka



Pahlawan Neraka



Suatu hari satu terjadi pertempuran antara pihak Islam dengan pihak Musyrik. Kedua belah pihak berjuang dengan hebat untuk mengalahkan antara satu sama lain. Tiba saat pertempuran itu diberhentikan seketika dan kedua pihak kembali ke markas masing-masing. Di sana Nabi Muhammad SAW dan para sahabat berkumpul membincangkan pertempuran yang telah terjadi itu. 

Peristiwa yang baru mereka alami itu masih terbayang-bayang di benak mereka. Dalam perbincangan itu, mereka begitu kagum dengan salah seorang dari sahabat mereka yaitu, Qotzman. Dalam pertempuran dengan musuh mereka, dia kelihatan seperti singa yang lapar menerkam mangsanya. Dengan keberaniannya itu, dia menjadi buah bibir waktu itu.
“Tidak seorang pun di antara kita yang dapat menandingi kehebatan Qotzman,” kata salah seorang sahabat.
Mendengar perkataan itu, Rasulullah SAW pun menjawab, “Sebenarnya dia itu adalah golongan penduduk neraka.”
Para sahabat heran mendengar jawapan Rasulullah SAW. Bagaimana seorang yang telah berjuang dengan begitu gagah menegakkan Islam masuk ke dalam neraka. Para sahabat saling berpandangan dengan lainnya mendengar jawapan Rasulullah itu. Rasulullah sadar para sahabat tidak percaya begitu saja, kemudian baginda berkata, “Semasa Qotzman dan Aktsam ikut dalam medan perang bersama-sama, Qotzman mengalami luka parah akibat ditikam oleh musuh. Badannya dipenuhi dengan darah. Dengan segera Qotzman meletakkan pedangnya ke atas tanah, manakala mata pedang itu pula dihadapkan ke dadanya. Lalu dia terus membenamkan mata pedang itu ke dalam dadanya.”
“Dia melakukan perbuatan itu adalah karena dia tidak tahan menanggung kesakitan akibat dari luka yang dialaminya. Akhirnya dia mati bukan karena melawan musuhnya, tetapi bunuh diri. Melihat keadaannya yang parah, orang menyangka dia sebagai ahli surga. Tetapi dia menunjukkan dirinya sebagai penduduk neraka.” Menurut Rasulullah SAW lagi, sebelum dia mati, Qotzman mengatakan, “Demi Allah aku berperang bukan karena agama tetapi untuk menjaga kehormatan kota Madinah supaya tidak dihancurkan oleh kaum Quraisy. Aku berperang untuk membela kehormatan kaumku. Kalau tidak karena itu, aku tidak akan berperang.”


2013@abdkadiralhamid


Tuesday, May 21, 2013

Pohon Berjalan Menyambut Panggilan Rasulullah SAW



Pohon Berjalan Menyambut Panggilan Rasulullah SAW

Oleh : Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Bin ‘Abbas Al-Maliki al-Hasani


Rukanah bin ‘Abdi Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin “Abdi Manaf adalah orang yang paling kuat tenaganya di kalanagan kaum Quraisy. Pada suatu hari di suatu tempat di Makkah ia berada sendirian dengan dengan Rasullullah saw.
Beliau saw berkata kepadanya, “Hai Rukanah, alangkah baiknya jika engkau takut kepada Allah dan mau menerima ajakanku (memeluk Islam).”

Ia menjawab, “Kalau aku tahu bahwa yang kau katakana benar tentu engkau sudah kuikuti!”
Rasulullah saw. Berkata lagi, “Bagaimana sikapmu jika engkau aku jatuhkan, apakah engkau mau tahu bahwa apa yang kukatakan benar?”
Rukanah menjawab, “Baiklah!”
Rasulullah saw. Berkata, “Ayo mendekat, engkau akan kurobohkan!”  Rukanah mendekat kemudian Rasulullah saw. Mengunci tubuh Rukanah dan menjatuhkannya di atas tanah dalam keadaan tidak berdaya.
Tetapi Rukanah tidak puas dan mau mencoba sekali lagi. Dia berkata, “Mari kita ulang!” Setelah Rukanah bangun, segera Rasulullah saw. Memitingnya dan merobohkannya lagi.
Dengan heran Rukanah berkata kepada Rasulullah saw., “Hai Muhammad, sungguh aneh sekali. Bagaimana engkau dapat merobohkannku!”
Beliau menjawab, “Ada yang lebih aneh dari itu. Jika engkau mau menundukkan diri dan takut kepada Allah serta menuruti perintahku, akan kuperlihatkan kepadamu yang jauh lebih aneh daripada itu.
“ Rukanah bertanya, “apakah itu?”
Beliau menjawab, “Pohon yang kau lihat itu akan kupanggil datang mendekatiku.”
“Coba panggil dia!” Kata Rukanah. Rasulullah saw. Kemudian memanggil pohon itu  yang kemudian bergerak sampai berada di hadapan beliau. Beberapa saat kemudian Rasulullah saw. Memerintahkan pohon itu untuk kembali ke tempat semula. Dan benar, pohon itu segera kembali ke tempat semula.
Rukanah pulang ke tengah kaumnya (kaum Musyrik Quraisy)  lalu berseru, “Hai Bani ‘Abdi Manaf, teman kalian itu (yakni Muhammad Rasulullah saw). Sanggup menyihir semua penghuni bumi ini. Demi Allah, saya tidak pernah melihat ada tukang sihir sehebat dia!” Kemudian Rukanah menceritakan apa yang baru saja dia saksikan dan dia alami. Beberapa lama kemudian dia memeluk agama Islam dan menjadi sahabat Nabi.

Sumber : Buku Ringkasan Sejarah Nabi Muhammad SAW ( Alhawaadits wa al ahwaal an Nabawiyyah) [Karya : Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Bin ‘Abbas Al-Maliki al-Hasani Penerbit : Darul Hidayah Hal 25-26 ]

abdkadiralhamid@2013

Monday, May 20, 2013

= KERINDUAN BURAQ KEPADA BAGINDA NABI BESAR MUHAMMAD SAW =

KERINDUAN BURAQ KEPADA BAGINDA NABI BESAR MUHAMMAD SAW

Adapun terjadinya peristiwa Isra dan Mikraj adalah kerana bumi merasa bangga dengan langit. Berkata dia kepada langit, "Hai langit, aku lebih baik dari kamu kerana Allah Swt. telah menghiaskan aku dengan berbagai-bagai negara, beberapa laut, sungai-sungai, tanam-anaman, beberapa gunung dan lain-lain." Berkata langit, "Hai bumi, aku juga lebih elok dari kamu kerana matahari, bulan, bintang-bintang, beberapa falah, buruj, 'arasy, kursi dan syurga ada padaku."
Berkata bumi, "Hai langit, ditempatku ada rumah yang dikunjungi dan untuk bertawaf para nabi, para utusan dan arwah para wali dan solihin (orang-orang yang baik)."

Bumi berkata lagi, "Hai langit, sesungguhnya pemimpin para nabi dan utusan bahkan sebagai penutup para nabi dan kekasih Allah Swt. seru sekalian alam, seutama-utamanya segala yang wujud serta kepadanya penghormatan yang paling sempurna itu tinggal di tempatku. Dan dia menjalankan syari'atnya juga di tempatku." Langit tidak dapat berkata apa-apa, apabila bumi berkata demikian. Langit mendiamkan diri dan dia mengadap Allah Swt dengan berkata, "Ya Allah, Engkau telah mengabulkan permintaan orang yang tertimpa bahaya, apabila mereka berdoa kepada Engkau. Aku tidak dapat menjawab soalan bumi, oleh itu aku minta kepada-Mu ya Allah supaya Muhammad Engkau dinaikkan kepadaku (langit) sehingga aku menjadi mulia dengan kebagusannya dan berbangga."

Lalu Allah Swt. mengabulkan permintaan langit, kemudian Allah Swt. memberi wahyu kepada Jibrail A.S pada malam tanggal 27 Rejab, "Janganlah engkau (Jibrail) bertasbih pada malam ini dan engkau 'Izrail jangan engkau mencabut nyawa pada malam ini."
Jibrail a.s.bertanya, " Ya Allah, apakah kiamat telah sampai?"
Allah Swt berfirman, maksudnya, "Tidak, wahai Jibrail. Tetapi pergilah engkau ke Syurga dan ambillah buraq dan terus pergi kepada Muhammad dengan buraq itu." Kemudian Jibrail a.s. pun pergi dan dia melihat 40,000 buraq sedang bersenang-lenang di taman Syurga dan di wajah masing-masing terdapat nama Muhammad. Di antara 40,000 buraq itu, Jibrail a.s.terpandang pada seekor buraq yang sedang menangis bercucuran air matanya. Jibrail a.s. menghampiri buraq itu lalu bertanya, "Mengapa engkau menangis, ya buraq?"

Berkata buraq, "Ya Jibrail, sesungguhnya aku telah mendengar nama Muhammad sejak 40 tahun, maka pemilik nama itu telah tertanam dalam hatiku dan aku sesudah itu menjadi rindu kepadanya dan aku tidak mahu makan dan minum lagi. Aku laksana dibakar oleh api kerinduan." Berkata Jibrail a.s., "Aku akan menyampaikan engkau kepada orang yang engkau rindukan itu." Kemudian Jibrail a.s.memakaikan pelana dan kekang kepada buraq itu dan membawanya kepada Nabi Muhammad Saw ,Wallahu'alam.

Buraq yang diceritakan inilah yang membawa Rasulullah Saw dalam perjalanan Isra dan Mikraj.
 abdkadiralhamid@2013

Wednesday, May 15, 2013

Kedermawanan Baa Misbah Yg Begitu Mencintai Dzurriyah Rasulullah

 

Kedermawanan Baa Misbah Yg Begitu Mencintai Dzurriyah Rasulullah


 
Suatu hari Sayidina Abdullah bin Syeikh Alaydrus duduk bercakap-cakap dengan para sahabatnya. Tiba-tiba beliau bertanya, “Adakah dermawan yang lebih murah hati daripada aku?” Dua kali pertanyaan ini diajukan, tetapi semua diam, tidak ada seorang pun yang berani menjawab. Namun, kemudian ada salah seorang dari mereka berkata,

“Ya sayyidiy, ada yang
lebih murah hati daripada engkau.”

“Siapa dia?”

“Dia tak begitu
dikenal.”

“Kau harus memberitahukan siapa orang itu. Tak ada alasan
untuk menyembunyikannya dariku.”

“Dia adalah seorang lelaki lemah
bernama Ba Misbah, tinggal di Kholif. Dia lebih murah hati daripada engkau.”

“Apa pekerjaan laki-laki ini?”

“Tukang celup pakaian.”

Setelah hari malam, Habib Abdullah menyamar sebagai wanita, lalu pergi
ke rumah Ba Misbah di Kholif. Sesampainya di sana, beliau mengetuk pintu rumah
Ba Misbah.

“Siapa…?” tanya Ba Misbah.

“Aku seorang syarifah
alawiyah. Aku butuh sesuatu darimu.”

Dengan perasaan senang, ia segera
keluar menemui beliau.

“Selamat datang wahai syarifah, segala puji
syukur bagi Allah yang telah memilih kami untuk memenuhi kebutuhanmu” katanya
setelah membuka pintu. Malam itu kebetulan adalah malam Idul Adha. “Ya
sayyidatiy, apakah kebutuhanmu, mintalah semua yang kau butuhkan. Hamba akan
patuh kepadamu” kata Ba Misbah.

“Aku adalah seorang syarifah yang
miskin. Anakku banyak. Aku tidak memiliki ayah, saudara maupun suami. Besok hari
raya, tapi kami tak memiliki apa-apa.”

“Marhaba… Permintaan yang mudah
bagi pelayanmu ini. Lalu apa yang kau inginkan?”

“Aku butuh makanan dan
beras.”

“Siap!” ia lalu memberikan dua karung makanan dan dua karung
beras.

Habib Abdullah tidak membawa barang itu pulang ke rumah, tapi
beliau pergi ke belakang rumah Ba Misbah, lalu meletakkan makanan dan beras
tersebut di sana. Beliau menunggu hingga Ba Misbah naik ke tingkat paling atas
dari rumahnya. Setelah merasa yakin bahwa Ba Misbah telah tidur, beliau kembali
ke rumah Ba Misbah, mengetuk pintunya.

“Siapa?” tanya Ba Misbah.

“Hababahmu, Syarifah yang tadi datang ke sini. Aku masih ada kebutuhan
yang lupa kusampaikan kepadamu.”

“Selamat datang sayyidatiy, puji syukur
bagi Allah yang telah memilih aku untuk memenuhi kebutuhanmu. Ini sebuah nikmat
yang agung” Ia segera menemui Habib Abdullah dengan perasaan senang dan bahagia.
“Ya sayyidatiy, mintalah apa yang kau perlukan, aku adalah abdimu, milikmu”,
katanya setelah membuka pintu.

“Aku lupa, kami berempat di rumah tidak
memiliki pakaian. Aku butuh pakaian.”

“Siap” ia lalu mengambilkan 4
pakaian yang telah dicelup dan bergambar. Pakaian-pakaian itu berkualitas
tinggi, dan pakaian terbaik bagi wanita zaman itu adalah yang bergambar.

Habib Abdullah membawa pakaian tersebut ke belakang rumah Ba Misbah dan
meletakkannya di tempat yang sama. Beliau mulai takjub dengan kebaikan akhlak Ba
Misbah. Sebab, meski diganggu di malam hari, ia tidak merasa susah dan jengkel.
Setelah merasa yakin bahwa Ba Misbah telah tidur pulas, Habib Abdullah kembali
ke rumah Ba Misbah untuk yang ke tiga kalinya. Beliau mengetuk pintu rumahnya.
Ba Misbah segera bangun dan bertanya,

“Siapakah yang di luar?”

“Hababahmu, syarifah yang tadi datang ke sini. Aku lupa, masih ada satu
kebutuhan lagi yang belum kusampaikan kepadamu.”

“Selamat datang, segala
puji bagi Allah yang telah memilihku untuk memenuhi kebutuhanmu” Ba Misbah
segera keluar menemui Habib Abdullah dengan perasaan lebih senang dan bahagia
dari sebelumya. Ia membukakan pintu seakan-akan Habib Abdullah baru pertama kali
datang ke rumahnya. “Ya sayyidatiy…, wahai penyejuk hatiku…, mintalah apa
yang engkau butuhkan, pelayanmu ini akan selalu patuh. Apa gerangan kebutuhamu
sekarang?”

“Aku butuh minyak zaitun, minyak samin, korma dan asidah.”

“Marhaba… Setiap kali kau butuh sesuatu mintalah kepadaku.”Ba Misbah
segera mengambilkan satu kantong minyak zaitun, satu kantong minyak samin, satu
wadah korma. “Ya sayyidatiy, ambillah barang-barang ini. Maafkan aku telah
meyusahkanmu lantaran engkau lupa menyebutkan semua kebutuhanmu. Jika masih ada
yang terlupa, kembalilah kemari. Kedatanganmu ke rumahku ini merupakan nikmat
terbesar yang diberikan Allah padaku.”

Habib Abdullah mengambil semua
pemberiannya, lalu pergi ke belakang rumah Ba Misbah. Habib Abdullah takjub
melihat kebaikan akhlak Ba Misbah dan mukanya tidak berubah. Beberapa saat
kemudian, setelah beliau yakin bahwa Ba Misbah telah tidur pulas, beliau kembali
mengetuk pintu rumahnya. Beliau ingin melihat sifat buruknya, atau perubahan
wajah Ba Misbah.

Ba misbah segera bangun dari tidurnya dan
bertanya,”Siapa itu?”

“Hababahmu, syarifah yang tadi datang ke sini.
Masih ada keperluanku yang terlupakan. Cepatlah kemari.”

Ba Misbah
segera keluar dengan perasaan senang dan bahagia, seakan-akan baru pertama kali
syarifah itu mengetuk pintu rumahnya. “Selamat datang sayyidatiy, penyejuk
hatiku. Segala puji bagi Allah yang telah mengistimewakanku dengan
bolak-baliknya engkau ke rumahku. Mintalah apa yang kau butuhkan. Aku adalah
abdi dan pelayanmu. Dan memenuhi semua kebutuhanmu adalah puncak cita-citaku.”

“Masih ada kebutuhan yang terlupakan olehku.”

“Apa itu? Semua
yang engkau butuhkan akan kusediakan. Jika tidak ada di sini, aku akan menjual
diriku untuk membeli barang yang kau butuhkan.”

“Aku butuh daging untuk
hari raya besok. Besok hari raya, tapi kami tidak memiliki sesuatu pun.”

“Demi Allah, di rumah pelayanmu ini tidak ada sesuatu pun kecuali satu
kepala kambing untuk hari raya anak-anaknya”, kata Ba Misbah sambil memegang
janggutnya, “Akan tetapi tidaklah benar jika anak-anak orang yang kopiahnya bau
ini menikmati hari raya, sementara anak cucu Rasulullah SAW tidak berhari raya.
Ambillah kepala kambing ini, dan berhari rayalah dengan anak-anakmu.”

Habib Abdullah membawa kepala kambing itu dan kembali meletakkannya di
belakang rumah Ba Misbah. Habib Abdullah terheran-heran menyaksikan akhlak Ba
Misbah. Beliau berkata dalam hatinya, “Hanya seorang arifbillah saja yang
akhlaknya seperti ini. Laki-laki ini sedikit pun tidak melihat basyariah
seseorang.”

Habib Abdullah diam di sana beberapa saat. Setelah merasa
yakin bahwa Ba Misbah telah tidur pulas, ia segera kembali ke rumah Ba Misbah
untuk yang ke lima kalinya. Beliau ingin melihat sedikit saja perubahan dari
sikap Ba Misbah, walaupun hanya sekedar perubahan raut wajah. Beliau kembali
mengetuk pintu rumah Ba Misbah.

“Siapa itu ?”

“Hababahmu,
syarifah yang tadi datang ke sini. Aku teringat satu lagi kebutuhanku.”

“Selamat datang wahai cucu Rasulullah. Kenikmatan apa gerangan yang
diberikan Allah kepadaku di malam ini? Segala puji syukur bagi-Nya” Ia segera
keluar dengan perasaan senang dan bahagia seakan-akan baru pertama kali syarifah
tersebut datang ke rumahnya. “Selamat datang Ya sayyidatiy, dan penyejuk hatiku.
Mintalah semua yang kau butuhkan. Aku adalah abdi dan pelayanmu. Aku patuh
kepadamu.”

“Aku butuh kayu.”

“Marhaba.”Ia memanggil pembantunya,
meminta kayu. “Wahai hababahku, wahai pelipur hatiku, inilah kayu yang kau
butuhkan. Setiap kali kau ingat suatu kebutuhan, kembalilah ke sini. Sebab,
melayanimu merupakan salah satu pendekatan diri yang paling baik kepada Allah.”

Habib Abdullah membawa kayu itu, lalu meletakkannya di tempat yang sama.
Beliau kagum menyaksikan kebaikan akhlak Ba Misbah dan kelapangan hatinya. Tak
sehelai rambut pun bergerak, tak sedikit pun raut wajah berubah. Beliau duduk
sejenak hingga benar-benar yakin bahwa Ba Misbah telah pulas dalam tidurnya.
Beliau kembali mengetuk pintu rumahnya untuk yang ke enam kali. Dalam hati,
beliau berkata, “Mungkin kali ini raut wajahnya akan berubah, atau ia akan mulai
menghina dan berkata kasar.”

Ba Misbah segera bangun dan bertanya,
“Siapa yang mengetuk pintu?”

“Hababahmu, syarifah yang tadi ke sini.
Masih ada satu kebutuhanku yang baru kuingat sekarang.”

“Marhaba…
Wahai hababahku, tuanku dan penyejuk hatiku.”Ba Misbah keluar dengan perasaan
lebih senang dan bahagia dari sebelumnya. Sekan-akan baru pertama kalinya
syarifah itu mengetuk pintu rumahnya. “Alhamdulillaah, kenikmatan agung apa yang
sedang diberikan Allah kepadaku ini. Aku tidak berhak menerima kenikmatan ini.
Mintalah apa yang kau butuhkan. Wahai sayyidatiy, setiap kali kau ingat sesuatu,
datanglah ke sini. Aku adalah abdi dan pelayanmu. Aku akan patuh kepadamu.”

“Aku butuh seseorang untuk membawakan semua yang kau berikan kepadaku.
Lihatlah, semua yang kau berikan kuletakkan di belakang rumahmu. Aku tidak kuat
membawanya ke rumahku.”

“Beres ! Kami akan mengantarkan barang-barang
itu ke mana pun engkau suka” Ia kemudian membangunkan isteri, anak dan
pembantunya. Mereka semua kemudian diperintahkannya membawa barang-barang
syarifah tadi. “Ya sayyidatiy, jalanlah lebih dahulu, agar kami dapat
mengikutimu” kata Ba Misbah.

Habib Abdullah berjalan di depan mereka.
Ketika sampai di Nuwaidiroh, Habib Abdullah berhenti dan berkata, “Wah…, aku
datang bukan dari rumahku, dan aku tidak kenal jalan ini, kecuali kalau aku
memulai lagi dari rumah kalian. Mari kita kembali.”

“Marhaba….”

Mereka semua kembali ke rumah Ba Misbah. Setelah sampai di sana, Habib
Abdullah berkata, “Sekarang aku ingat jalan menuju rumahku. Inilah jalannya.
“Jalanlah di muka…, agar kami dapat mengikutimu” Beliau berjalan di depan, dan
mereka semua mengikutinya. Sesampainya di Nuwaidiroh, beliau berhenti. “Aku
kehilangan arah lagi. Apakah gerangan yang terjadi ? Aku tidak dapat mengingat
jalan menuju rumahku, kecuali jika kita mulai lagi dari rumah kalian. Mari kita
balik ke sana.”

Mereka pun dengan senang hati kembali ke rumah Ba
Misbah. Habib Abdullah telah menguji Ba Misbah sampai pada puncaknya. Beliau
ingin melihat lelaki itu marah, namun sedikit pun sikapnya tidak berubah hingga
Habib Abdullah sendiri merasa kelelahan. Fajar mulai menyingsing, Habib Abdullah
berkata kepada mereka, “Sekarang telah masuk waktu fajar. Bukalah pintu rumah
kalian, aku ingin menunaikan salat Subuh di rumah kalian.”

“Selamat
datang. Salatmu di rumah ini adalah nikmat terbesar bagi kami. Setiap kali kau
meminta sesuatu kepada pembantumu ini, ia akan menyediakannya untukmu. Meskipun kau minta semua yang ada di rumahnya, ia akan memberikannya kepadamu. Dan engkau sesungguhnya telah bermurah hati kepada kami, karena telah mengistimewakan aku untuk memenuhi kebutuhanmu.”

Ba Misbah lalu membuka pintu rumahnya.
Setelah memasuki rumah, Habib Abdullah membuka cadar yang menutupi wajahnya dan berkata kepada Ba Misbah, “Sungguh beruntung kamu…, sungguh beruntung…,
kuucapkan selamat atas akhlakmu yang luhur ini. Demi Allah, kau seorang dermawan
sejati, lebih murah hati dariku. Aku bukanlah seorang wanita. Aku adalah
Abdullah bin Syeikh Alaydrus. Tidak ada seorang manusia pun akan mampu
berperilaku dengan akhlak yang luhur ini.”

Air mata Habib Abdullah
menetes di pipi, ia berkata, “Selamat… selamat… selamat… Maafkanlah aku.
Semoga Allah menambah apa yang telah Ia berikan kepadamu, dan menjadikan budi
pekerti kita seperti budi pekertimu…”. Setelah berpamitan, Habib Abdullah lalu
pergi sambil memuji dan mendoakannya.

subhanallah...
 abdkadiralhamid@2013