Sunday, May 26, 2013

DIALOG SYEKH ABDUL QADIR JAILANI RA DAN MALAIKAT MAUT

DIALOG SYEKH ABDUL QADIR JAILANI RA DAN MALAIKAT MAUT

Dalam ceramah di akhir bulan Rajab 546 H di Madrasah, Syekh Abdul Qadir Jailani menuturkan:
Imam Junaid Al-Baghdadi rahimahullah sering kali mengatakan :
“Apa yang dapat kuperbuat terhadap diriku? Aku ini hanya seorang hamba dan milik Majikanku.” 
Dia telah menyerahkan dirinya kepada Allah, tidak memiliki pilihan lain selain terhadap-Nya dan tidak mengusik-Nya. Junaid telah rela dengan apa pun yang ditakdirkan kepadanya. Hatinya telah menjadi baik dan nafsunya telah tenang.

Dia telah mengamalkan firman Allah Azza wa Jalla, “Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang
telah menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (QS Al-‘Araf:
196)
Pada suatu malam, aku mengingat kematian, dan aku menangis dari awal malam hingga waktu sahur
tiba. Aku berdoa, “Ya Tuhanku, aku mohon kepadamu agar malaikat mautt tidak mencabut nyawaku,
tapi Engkau sendiri yang mencabutnya.

” Kemudian, aku tertidur, lalu aku bermimpi melihat seorang
tua yang mengagumkan dan menawan. Dia kemudian masuk dari arah pintu, dan aku bertanya
kepadanya: “Siapakah engkau?”

Lalu, dia menjawab, “Aku malaikat maut.”

Aku katakan kepadanya, “Aku telah meminta kepada Allah agar Dia sendiri yang mencabut nyawaku,
bukan engkau yang akan mencabutnya.”

Malaikat itu balik bertanya, “Lalu mengapa engkau meminta hal itu? Apa dosaku? Aku hanyalah hamba yang mengikuti perintah. Aku diperintahkan bersikap lemah lembut terhadap suatu kaum dan bersikap kasar kepada kaum yang lainnya.” Kemudian, dia memelukku dan menangis, maka aku pun menangis bersamanya.

Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata :
“Betapa banyak hati yang terbakar oleh kecintaan kepada dunia, padahal di dadanya ada Al-Quran. Sementara, banyak orang saleh yang selalu bangun malam mendirikan shalat malam, beramar makruf nahi munkar. Tangan mereka itu terbelenggu oleh sikap wara’ sehingga meninggalkan dunia, dan keinginan mereka mencari Tuhan mereka begitu kuat. Maka,
infakkan harta kalian kepada mereka itu. Sebab, di kemudian hari mereka itu akan mendapatkan
kekuasaan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.”

---Dikutip dari kitab Fath Rabbani.
 abdkadiralhamid@2013

Saturday, May 25, 2013

Hikmah Peristiwa Ghadir Khum

Hikmah Peristiwa Ghadir Khum

 Bismillahirrahmanirrahim..............

Pertama-pertama kita hrs sepakat, bahwa sahabat adalah orang-orang pilihan (terbaik) Allah utk Nabinya, meskipun mereka manusia biasa yg tak luput dr kesalahan-kesalahan (sesuai dengan kodratnya sebagai manusia biasa), yang jasa-jasanya terhadap penyebaran islam telah banyak terbukti....Allah dan Nabinya mencintai mereka....Mengenai peristiwa Ghadir Khum, sangat banyak hadist-hadist yg menjelaskan dan penafsiran-penafsirannya yg juga disalah artikan demi kepentingan......Hal ini gak bisa dipungkiri !!!

Ana dalam bersikap selalu berkhusnudzhon, Disepanjang sejarah....banyak hadist-hadist yg sengaja ditutup-tutupi demi kepentingan waktu itu....tapi kadang krn banyaknya yg meriwayahkan shg hadist tsb masih bisa eksis, salah satunya : 


Dalam literatur Islam tercatat hadits Ghadir Khum ini berbunyi من كنت مولاه فعلي مولاه. Sementara hadits ini memiliki jalur periwayatan yang cukup banyak. Hadits ini diriwayatkan di dalam Musnad Imam Ahmad 2/71 nomor 641. Di dalam Musnad Ahmad, Hadits ini masuk kategori Shahih Lighairih, karena memiliki sanad yang shahih dari jalur periwayatan lain yang mencapai 30 sahabat. Imam Dzahabi di dalam Siyar A'lam Nubala menyebut matan hadits ini mutawatir(8/335)

Hadits tersebut juga diriwayatkan di dalam Mustadrak Hakim 3/109-110 yang mengambil jalur Imam Ahmad dari Zaid bin Arqam. Hadits ini malah disebut shahih atas syarat Imam Bukhari dan Muslim.I mam Dzahabi di dalam Mukhtashar Istidrak Dzahabi Ala Mustadrak Hakim menyebut bahwa hadits ini memiliki 12 jalur periwayatan.Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Turmudzy dalam Sunan10/214,  Nasai dalam Khashaish, hal. 96, Imam Bazzar dalam Musnad3/189, Ibn Hibban dalah Shahih Ibn Hiban nomor 2205 dan jalur periwayatan lain sebagaimana tertera di dalam kitab-kitab hadits.

Maka tidak ada keraguan tentang keotentikan hadits ini sebagaimana telah dijelaskan oleh berbagai ulama lintas zaman. Walaupun sanad pada beberapa jalur periwayatan dianggap memiliki cacat akan tetapi memiliki penopang melalui riwayat lain.



Setelah Kematian Imam HASAN r.a.
Pada suatu kesempatan Mu'awiyah bin Abi Sofyan bergurau kpd Abdullah bin Abbas r.a tapi dgn maksud serius: " Anda yang patut menjadi pemimpin masyarakat Anda sesudah Hasan." Tetapi Abdullah tdk terpancing dgn memberikan jawaban ketus :"Selama masih ada Abu Abdullah--maksudnya Husain bin Ali--hal itu tidak akan terjadi."

Saat ia (Abdullah) menemui Mu'awiyah ,ketika sedang beradadi mesjid ia mendengar Mu'awiyah bertakbir di tengah-tengah pasukannya dan disambut pula dengan takbisr,dan pada gilirannya orang-orang di dalam mesjid juga bertakbir. Abdullah bin Abbas pun datang menemui Mu'awiyah. "Ibnu Abbas,Anda tahu Hasan sudah meninggal?" Tanya Mu'awiyah.
Abbas " untuk itu anda bertakbir?"
Mu'awiyah "ya" Ibn Abbas mengecam keras sikap Mu'awiyah itu.
Fakhita binti Qarazah, istri Mu'awiyah mendengar suara-suara itu keluar menanyakan apa yang terjadi. "Ada berita apa maka anda begitu gembira?" Tanyanya. Setelah diberi tahu bahwa ia bertakbir gembira karena kematian Hasan, perempuan itu berucap: Inna Lillahi Wa inna ilaihi raji'un, dan dia menangis sembari berkat "Pemimpin para rasul dan anak Putri Rasulullah SAW telah meninggal,"katanya.

Sebelum Imam Hasan menemui ajalnya Ia berpesan kepada adiknya Husain,
Bahwa setelah Rasulullah SAW wafat diharapkan ayah mereka (Ali) yang akan menggantikannya,tetapi rupanya Allah belum berkenan dan mengalihkannya kepada Abu Bakar.Menjelang kematian Abu Bakar juga diharapkan demiian tetapi sekali ini juga dialihkan kepada Umar.menjelang kematian Umar membentuk sebuah majelis syura dan walaupun ayah menjadi salah seorang dari enam orang anggota yang di calonkan sebagai penggantinya,tapi kekhalifahan jatuh ke tangan Usman.
Setelah Usman meninggal dan kekhalifahan di tangan ayahnya,keadaan tak juga reda. Selanjutnya ia berkata : Adik ku, rupanya Allah tidak menghendaki keNabian dan ke Khalifahan itu berada di satu tangan,kita AHLULBAIT...Anda telah diminta oleh orang-orang pandir Kufah datang kesana dan mereka pula yang mengeluarkan Anda dari sana..saya sudah memohon kepada AISYAH kalau saya meninggal agar di ijinkan untuk dikuburkan dalam lingkungan rumahnya bersama Rasulullah SAW. Dia mengiayakan.tetapi saya tidak tahu,mungkin hanya karena rasa malu.kalau saya meninggal ajukanlah permohonan saya itu.jika ia menerimanya dengan senang hati,kuburkanlah saya dirumahnya.saya rasa akan ada orang yang akan mencegah kehendakmu itu. Kalaupun demikian janaganlah menentang mereka.kuburkan saja saya di Baqi'al-Garqad"

Husain melaksanakan pesan kakaknya itu,dan ia pergi menemui Aisyah menyampaikan permintaannya."Ya" sambut Aisyah,"dan Suatu kehormatan."
Bila berita itu sampai kepada Marwan bin Hakam ia menolak. "Pemakaman Usman dilarang,sekarang mereka mau menguburkan Hasan dirumah Aisyah.

Peristiwa ini membuat Husain marah,yang disambut serupa oleh Marwan. Tapi Abu Hurairah dapat membujuk Husain dengan mengatakan : bukan kakakmu sudah mengatakan ,jikajika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah, bawa sajala kekuburan Muslimin.
Jenazah Hasan dibawa ke Baqi', dan dimakamkan disamping neneknya Fatimnah binti Asad.


Imam Hasan bin Ali r.a :

Meninggalkan sebelas anak laki-laki tanpa menyebutkan ada anak perempuan: Zaid,al-Qasim,Hasan,Abu Bkr,Abdullah (kelimanya terbunuh dalam pertempuran bersama pamannya,Husain), Amr.Abdur-Rahman.Husain,Muhamm
ad,Ya'qub dan Ismail. Sember lain. Menyebutkan lima belas anak laki-laki dan perempuan, dan yang memberikan keturunan hanya Zaid dan Hasan.

Demikian sekelumit yang dapat kita tela'ah dan mengambil hikmah dar segala kejadian, akan tetapi bukan lagi waktunya kita harus mengutuk apapun yang sudah terjadi
.
Kebenaran ttg hadist dimana Beliau bersabda
“Ya Allah barangsiapa yang aku menjadi pemimpinnya maka Ali pun menjadi pemimpinnya, dukunglah orang yang mendukung Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya”, adalah BENAR.....

dan jika dikaikan dgn hadits Tsaqalain : 

"Aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat setelah (berpegang teguh kepada) keduanya; kitabullah (Alqur'an) dan 'itraty wa ahli baity (keturunanku dan keluargaku yaitu ahli Baitku), 

dimana ana pribadi menilai ada kandungan wasiat yg ingin disampaikan Rasulullah, sepakat para zumhur ulama bahwa ahlulbait dan keturunanya adalah yg paling berhak yg menjaga Alquran, siapa yg dekat akan selamat dan yg jauh akan tenggelam (bahtera nuh), karena dr merekalah tariqah diturunkan dr turun temurun, meskipun banyak badai fitnah melanda, selama mereka berpegang teguh dgn ajaran datuknya pasti tdk akan tersesat (Shohiburratib Alhaddad)......
Adapun mengenai "Maula" atau Pemimpin, jg hrs kita bs lebih bijak menafsirkannya....


Ketika Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib ditanyakan kepadanya, Bukankan Nabi Muhammad telah mengatakan من كنت مولاه فعلي مولاه, lantas Imam Hasan menjawab, sekiranya yang dimaksud oleh Nabi adalah pemimpin, maka Nabi akan menjelaskannya secara lebih terperinci, sebagaimana dijelaskannya perkara wajibnya shalat, puasa dan zakat.

Salah satu bukti nyata bahwa hadits Ghadir ini tidak mengandung makna khalifah adalah ketika terjadi Musyawarah Bani Tsaqifah yang pada akhirnya membaiat Abu Bakar sebagai Khulafaur Rasyidin pertama, tidak ada seorang pun sahabat yang menggunakan dalil ini untuk mengangkat Imam Ali.

Bagi penulis makna "Maula", jika diartikan sbg :

1. Pemimpin dunia (khalifah) / Amir.
 
Berapa banyak org rusak krn kekuasaan, berapa banyak kekuasaan merusak "hati" dll.
Ini harus jg dipertimbangkan kenapa Sy Ali meskipun mengetahui haknya, tetapi dengan besar hati , beliau tdk bersikeras utk mempertahankannya krn pertimbangan kemaslahatan umat....dan begitu juga yg mendorong banyak orang – terutama tokoh-tokoh para dzurriah yang menonjol – berhijrah meninggalkan kampung halamannya mencari kediaman yang aman.

Di antara orang yang hijrah dari Irak adalah Al-Iman Ahmad Al-Muhajir Ilallah (berhijrah mencari ridha ALLAH) Sebab Al Muhajir- seperti tokoh-tokoh ahlul bait yang lainnya selalu merasa ketakutan dan senantiasa menjadi sasaran pembunuhan dan penganiyaan. Hal demikian makin terasa pada saat terjadi pemberontakan dan huru-hara, di mana musuh-musuh Alawiyin rnenggunakannya sebagai kesempatan untuk menganiaya dan membantai mereka. Hal ini terutarna akibat rasa khawatir bahwa di dalam suasana kacau itu, kaum Alawlyin akan menampilkan diri untuk memegang kendali kekuasaan di tengah umat Islam yang tetap berpendirian bahwa kewajiban mereka adalah menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Ahlulbait, keturunan Nabi pembawa agama ini serta bernaung di bawah panjinya, betapapun secara lahir mereka (umat Islam) tunduk kepada pemimpin yang lain. Atau demikianlah semestinya.
Namun banyak di antara tokoh Alawiyin berusaha menahan diri dan menghindar untuk tidak terjebak ke dalam huru-hara itu serta berupaya untuk tidak terlibat dalam pergolakan-pergolakan politik, disebabkan pelajaran-pelajaran praktis yang mereka terima dari berbagai pengalaman dalam bidang ini. Karena itu, bergerak di dalam lapangan politik – menurut pandangan mereka – akan selalu berakhir dengan kegagalan. Demikianlah pendirian segolongan Alawiyin. Namun ada segolongan lain berpendirian, bahwa Alawiyin harus berkorban dalam segalanya untuk menyelamatkan umat, yang harus terus menerus berjuang sehingga tujuan tercapai, atau mati bergelimang darah di tengah medan pertempuran.
Imam Al Muhajir termasuk golongan pertama, sedang saudaranya Muhammad bin Isa termasuk golongan kedua, dibuktikan dengan perlawanannya terhadap kekuasaan Abbasiyah. Dalam hal ini, Al Muhajir selalu memperingatkan dan memberi nasihat kepada saudaranya agar tidak melakukan perlawanan. Peringatan dan nasihat diberikan secara terus menerus, sehingga akhirnya merasa puas dan yakin akan kebenaran pendirian Al Muhajir, lalu menghentikan perlawanannya."
Al imam Muhajir ilallah, ahmad bin isa yg hijrah dr basyrah ke hadramaut, dlm rangka menjauhkan diri dr fitnah2 kekuasaan, dan menyelamatkan tariqah datuknya, dan banyak lagi contoh2 para dzurriah yg sengaja menjauhkan diri dr lingkaran kekuasaan agar bisa lebih fokus dlm memperdalam dan menyelamatkan aqidah.........


2. Imam berbeda dari segi arti dengan"faham Imamiyah".
 
Ahlulbait dan keturunan suci Rasulullah, dimuliakan oleh Allah karena ada titisan darah yg mengalir ditubuh mereka, tapi tdk menjadikan mereka maksum, yg mrpkan hak kenabian. Mengenai keutamaan mereka banyak dalil2 yg menjelaskannya....Kesimpulannya, mereka para Ahlulbait dan keturunan suci Rasulullah memiliki kodrat yg sama dgn manusia yg lain,bisa melakukan kesalahan2 ..... tetapi dikarenakan Kemuliaan Allah ada pada mereka, dan keberkahan Datuknya yang selalu membimbing, sehingga ana melihat mereka bagaikan "Ilmu yg belum terasah", 

wallahu alam bisy syawab....

Makna Imam juga berarti Pemimpin, banyak ulama mengartikan maknah imam yg begitu luas, cm ana mengartikan sempit yakni dalam hal keagamaan....Jadi ana menganggap imam adalah gelar yg boleh disandang oleh siapa saja yg memiliki kapasitas sesuai dengan kriteria yg dimaksud, tidak berarti membatasi hanya 12 saja.Inilah perbedaan yg ana kira dr faham imamiyah.


Tetapi intinya bukan itu, Apa yg terjadi sudah menjadi ketentuan Allah yang terbaik, dimana Para dzurriah bisa lebih fokus dalam menyelamatkan agama dan aqidah dan tdk berada dalam lingkaran kekuasaan yg hubbun dunniya yang malah bisa menjerumuskan seseorang dalam kebatilan. Kami tidak memungkiri tentang Kebenaran Peristiwa Ghadir Khum, tetapi kami mengambil hikmah dari peristiwa itu...
Meski banyak yg memungkiri, tetapi semua sepakat tentang kelebihan Sy Ali, yg sepanjang hidupnya paling dekat Rasulullah, yg otomatis selalu mendapat bimbingan langsung dr Beliau.
Memang tidak diragukan bahwa ‘Ali merupakan seorang yang berpengetahuan tinggi di kalangan para shahabat dan memiliki banyak keutamaan. 


أَنَا مَدِيْنَةُ اْلعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا

“Aku (Rasulullah) adalah kota ilmu dan ‘Ali adalah pintunya.”
Tetapi Sy Ali adalah bukan seseorang yg haus kekuasaan, beliau sgt bijak dalam melihat situasi, dgn berbesar hati melepaskan tongkat pemerintahan dgn pertimbangan yg matang utk keturunan suci Rasulullah dan kemaslahatan umat.....dan aqidah terselamatkan......

Sayyidini Ali sendiri sangat menghormati dan sangat mencintai Khalifah-Khalifah sebelum dia (Ali) terbukti saat Abi Sufyan bin harb datang kepadanya ingin membaiatnya (Ali) setelah wafatnya Rasulullah. namun Ali berkata : anda (Abu Sofyan) msh saja memusuhi Islam..tiada seseorang yang lebih pantas menggantikan Rasulullah selain Abu Bakar r.a anda (abu Sufyan) hanya ingin memecah belah kadaulatan Islam.

Terlepas dari itu semua......Allah azza wa jalla tdk salah dalam memilih semua sahabat yg hidup di zaman rasulullah, karena zaman itu yg terbaik......dan Begitu besar jasa dan perjuangan mereka....
Jadilah umat yg terbaik, serahkanlah semuanya kepada NYA, kita gak perlu mengungkit2 kesalahan2 yg terjadi, jadikanlah pelajaran utk kedepan. jangan hanya satu kesalahan menutupi semua kebaikan mereka....


Wallahu Alam........

abdkadiralhamid@2013

Tanggung jawab orangtua dan Anjuran kepada putra-putri ‘Alawiyyin

Tanggung jawab para orangtua ‘Alawiyyin 


Kalam Al-Imam Abdullah bin Alwi Al-Atthas:
1. Menjaga putra-putri alawiyyin khususnya dan para generasi muda umumnya dari sifat-sifat ambisi untuk mencari pengaruh dan pangkat/kedudukan yang di puja-puji oleh semua orang. Sebagaimana sikap Nabi SAW terhadap para sahabatnya seakan-akan seperti ayah mereka, beliau SAW tidak takut akan kemiskinan yang bersifat duniawi yang akan menimpa mereka. Telah berkata Ath-Thiby ra., “Seorang ayah yang materialis (cinta kepada harta-harta duniawi) khawatir apabila anaknya ditimpa miskin harta. Sedangkan ayah yang religius (yang kuat pendidikan moral dan agamanya) khawatir apabila anaknya miskin akan ilmu-ilmu agama.”
Sebagaimana hadits Nabi SAW yang diriwayatkan dari Abi Hurairah ra.: “Celakalah penyembah dinar dan dirham serta penyembah karpet dan selimut. Bila ia diberi, rela dan senang, dan jika tidak ia diberi, tidak senang (benci).” Telah berkata seorang ulama besar di zamannya Hamdun Al-Qoshshor, “Jika berkumpul iblis dan bala tentaranya, mereka tidak gembira pada suatu hal seperti kegembiraan mereka akan tiga perkara berikut :
Orang mukmin membunuh seorang mukmin.
Orang yang mati di atas kekafiran.
Orang yang hatinya ada rasa takut kepada kemiskinan harta.
2. Menjaga putra-putri ‘Alawiyyin dari akidah-akidah yang bejat dan rusak serta melarang mereka untuk memperbincangkan apa-apa yang terjadi di antara para sahabat (rodhiyalloohu ‘anhum ajma’iin). Mereka bahkan mendambakan putra-putrinya untuk berpegang teguh dengan apa yang ada dalam kitab Ihya’, sebagaimana mereka telah mengamalkan apa yang ada di dalam kitab tersebut. Sehingga berkata Al-Habib Abdurrahman Assegaf ra. : “Barang siapa yang tidak menelaah kitab Ihya’, maka tidak ada pada dirinya rasa malu.”


Anjuran kepada putra-putri ‘Alawiyyin

Berkata Al-Imam Asy-Syeikh Abdullah bin Ahmad Basaudan RA di dalam kitabnya Al-Futuuhah Al-Arsyiah, setelah menyebutkan beberapa kitab yang terkarang dimana disana disebutkan riwayat hidup para Saadah. Beliau be
rkata, “Pintasilah jalan yang penuh cahaya sebagaimana yang telah dipaparkan dalam kitab Ihya Ulumiddin, supaya anda tergolong dari orang-orang yang punya rasa malu, dan pintasilah jalan hidayat dengan mengamalkan apa yang ada di dalam kitab Bidayatul Hidayah.”
Berkata Sayyiduna Al-Imam Muhammad bin Ahmad bin Ja’far bin Ahmad bin Zein Alhabsyi, “Qodho (ketetapan) itu tidak dapat dipungkiri, dan syariat harus diikuti tanpa dikurangi dan ditambahi. Para imam kita keluarga Bani Alawy telah melintasi jalur yang mulus dan jalan yang lurus. Barangsiapa yang mencari aliran baru untuk dirinya sendiri atau untuk putra-putrrinya dengan cara tidak menempuh di jalan para datuk-datuknya yang saleh dan mulia, maka pada akhir umurnya ia akan menemui kekecewaan dan kebinasaan.” Mereka itulah yang dikatakan sebagai golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dikategorikan pada golongan yang selamat bersama Nabi SAW. Mereka itulah orang-orang yang bakal mendapat syafaat beliau SAW.
Berkata Sayyiduna Al-Imam Al-Ahqof As-Sayyid Umar bin Saggaf Assaggaf kepada anaknya, “Aku berpesan kepadamu, hendaklah kau bersungguh-sungguh mengikuti perjalanan para Salafuna As-sholeh dari Ahlul Bait An-Nabawy, terlebih-lebih dari keluarga Bani Alawy. Bersungguh – sungguhlah dan bergiatlah dalam mengikuti perjalanan mereka niscaya kau akan sukses.”

KISAH BERPISAHNYA ROH DARI JASAD

 

KISAH BERPISAHNYA ROH DARI JASAD

Dalam sebuah hadith daripada Aisyah r.a katanya, "Aku sedang duduk bersila di dalam rumah. Tiba-tiba Rasulullah S.A.W datang dan masuk sambil memberi salam kepadaku. Aku segera bangun kerana menghormati dan memuliakannya sebagaimana kebiasaanku di waktu baginda masuk ke dalam rumah. Nabi S.A.W bersabda, "Duduklah di tempat duduk, tidak usahlah berdiri, wahai Ummul Mukminin." Maka Rasulullah S.A.W duduk sambil meletakkan kepalanya di pangkuanku, lalu baginda berbaring dan tertidur.

Maka aku hilangkan uban pada janggutnya, dan aku dapat 19 rambut yang sudah putih. Maka terfikirlah dalam hatiku dan aku berkata, "Sesungguhnya baginda akan meninggalkan dunia ini sebelum aku sehingga tetaplah satu umat yang ditinggalkan olehnya nabinya." Maka aku menangis sehingga mengalir air mataku jatuh menitis pada wajah baginda.
Baginda terbangun dari tidurnya seraya bertanya, "Apakah sebabnya sehingga engkau menangis wahai Ummul Mukminin?" Masa aku ceritakan kisah tadi kepadanya, lalu Rasulullah S.A.W bertanya, "Keadaan bagaimanakah yang hebat bagi mayat?" Kataku, "Tunjukkan wahai Rasulullah!"

Rasulullah S.A.W berkata, "Engkaulah katakan!," Jawab Aisyah r.a : "Tidak ada keadaan lebih hebat bagi mayat ketika keluarnya mayat dari rumahnya di mana anak-anaknya sama-sama bersedih hati di belakangnya. Mereka sama-sama berkata, "Aduhai ayah, aduhai ibu! Ayahnya pula mengatakan: "Aduhai anak!"
Rasulullah S.A.W bertanya lagi: "Itu juga termasuk hebat. Maka, manakah lagi yang lebih hebat daripada itu?" Jawab Aisyah r.a : "Tidak ada hal yang lebih hebat daripada mayat ketika ia diletakkan ke dalam liang lahad dan ditimbuni tanah ke atasnya. Kaum kerabat semuanya kembali. Begitu pula dengan anak-anak dan para kekasihnya semuanya kembali, mereka menyerahkan kepada Allah berserta dengan segala amal perbuatannya." Rasulullah S.A.W bertanya lagi, "Adakah lagi yang lebih hebat daripada itu?" Jawab Aisyah, "Hanya Allah dan Rasul-Nya sahaja yang lebih tahu."

Maka bersabda Rasulullah S.A.W : "Wahai Aisyah, sesungguhnya sehebat-hebat keadaan mayat ialah ketika orang yang memandikan masuk ke rumahnya untuk emmandikannya. Maka keluarlah cincin di masa remaja dari jari-jarinya dan ia melepaskan pakaian pengantin dari badannya. Bagi para pemimpin dan fuqaha, sama melepaskan serban dari kepalanya untuk dimandikan.
Di kala itu rohnya memanggil, ketika ia melihat mayat dalam keadaan telanjang dengan suara yang seluruh makhluk mendengar kecuali jin dan manusia yang tidak mendengar. Maka berkata roh, "Wahai orang yang memandikan, aku minta kepadamu kerana Allah, lepaskanlah pakaianku dengan perlahan-lahan sebab di saat ini aku berehat dari kesakitan sakaratul maut." Dan apabila air disiram maka akan berkata mayat, "Wahai orang yang memandikan akan roh Allah, janganlah engkau menyiram air dalam keadaan yang panas dan janganlah pula dalam keadaan sejuk kerana tubuhku terbakar dari sebab lepasnya roh," Dan jika merea memandikan, maka berkata roh: "Demi Allah, wahai orang yang memandikan, janganlah engkau gosok tubuhku dengan kuat sebab tubuhku luka-luka dengan keluarnya roh."

Apabila telah selesai dari dimandikan dan diletakkan pada kafan serta tempat kedua telapaknya sudah diikat, maka mayat memanggil, "Wahai orang yang memandikanku, janganlah engkau kuat-kuatkan dalam mengafani kepalaku sehingga aku dapat melihat wajah anak-anakku dan kaum keluargaku sebab ini adalah penglihatan terakhirku pada mereka. Adapun pada hari ini aku dipisahkan dari mereka dan aku tidakakan dapat berjumpa lagi sehingga hari kiamat."
Apabila mayat dikeluarkan dari rumah, maka mayat akan menyeru, "Demi Allah, wahai jemaahku, aku telah meninggalkan isteriku menjadi janda, maka janganlah kamu menyakitinya. Anak-anakku telah menjadi yatim, janganlah menyakiti mereka. Sesungguhnya pada hari ini aku akan dikeluarkan dari rumahku dan meninggalkan segala yang kucintai dan aku tidak lagi akan kembali untuk selama-lamanya.­"

Apabila mayat diletakkan ke dalam keranda, maka berkata lagi mayat, "Demi Allah, wahai jemaahku, janganlah kamu percepatkan aku sehingga aku mendengar suara ahliku, anak-anakku dan kaum keluargaku. Sesungguhnya hari ini ialah hari perpisahanku dengan mereka sehingga hari kiamat."
(1001 KISAH TELADAN)

Ya Allah...

✔ Muliakanlah orang yang membaca status ini
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit, Fitnah, Prasangka Keji, Berkata Kasar, dan Mungkar
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang me-LIKE dan membagikan status ini...

Aamiin ya Rabb....
abdkadiralhamid@2013

Muaz bin Jabal r.a

Muaz bin Jabal r.a

Kelahiran dan kehidupan beliau:


Muaz bin Jabal r.a dilahirkan di Madinah.
Muaz r.a mempunyai ciri-ciri keistimewaan sebagai seorang yang sangat pintar, mempunyai penampilan sebagai seorang yang perkasa dan berhemah tinggi. Allah mengurniakan kepada beliau kepetahan bercakap, mempunyai rupa paras dan tutur kata yang indah.
Muaz bin Jabal r.a memeluk Islam sejak beliau masih kecil melalui Mus'ab bin Umair yang diutuskan oleh Rasulullah s.a.w ke Madinah untuk mengajar penduduk Madinah.

Berbaiah dengan Nabi:


Muaz r.a termasuk di dalam rombongan yang berjumlah seramai 72 orang Madinah yang datang berbaiah dengan Nabi s.a.w.
Sebaik sahaja selesai berbaiah, Muaz kembali ke Madinah sebagai seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Beliau berjaya mengislamkan beberapa orang sahabat yang terkemuka seperti: Amru bin Al-Jamuh.

Sifat terpuji beliau:


Sebaik sahaja Nabi s.a.w berhijrah ke Madinah, Muaz sentiasa berada bersama dengan Rasulullah s.a.w sehingga beliau dapat memahami Al-Quran dan syariat-syariat Islam dengan baik menyebabkan beliau muncul sebagai seorang yang paling alim tentang Al-Quran dari kalangan para sahabat, orang yang paling baik membaca Al-Quran serta paling memahami syariat-syariat Allah.
Oleh sebab itulah Rasulullah s.a.w memuji beliau dengan bersabda: Yang bermaksud: Umatku yang paling alim tentang halal dan haram ialah Muaz bin Jabal. Hadis riwayat Tirmizi dan Ibnu Majah.
Muaz r.a terdiri dari kalangan enam orang yang mengumpulkan Al-Quran pada zaman Rasulullah s.a.w.
Setelah Allah s.w.t membuka Kota Mekah kepada Rasulullah s.a.w, penduduk Mekah memerlukan kepada tenaga pengajar yang tetap tinggal bersama dengan mereka untuk mengajar syariat Allah s.w.t, lalu Rasulullah s.a.w meminta supaya Muaz tinggal bersama dengan penduduk Mekah untuk mengajar AlQuran dan memberikan kefahaman kepada mereka mengenai agama Allah s.w.t.
Sifat terpuji beliau juga jelas terserlah ketika rombongan raja-raja Yaman datang berjumpa Rasulullah s.a.w mengisytiharkan keislaman mereka dan meminta daripada Rasulullah s.a.w supaya menghantar tenaga pengajar kepada mereka. Lalu baginda memilih Muaz r.a untuk memegang tugas tersebut bersamasama dengan beberapa orang para sahabat malah beliau merupakan ketua kepada rombongan para sahabat tersebut. Rasulullah s.a.w keluar untuk mengucapkan selamat jalan kepada mereka lantas baginda mewasiatkan kepada Muaz r.a dengan bersabda: "Wahai Muaz! Kemungkinan kamu tidak akan dapat bertemu lagi dengan aku selepas tahun ini malah mungkin juga selepas ini kamu akan melalui masjid dan kuburku ..." Lantas Muaz r.a menangis kerana terlalu sedih untuk berpisah dengan Rasulullah s.a.w. Selepas peristiwa tersebut ternyata Rasulullah s.a.w wafat dan Muaz tidak lagi dapat melihat baginda.
Setelah Muaz r.a kembali ke Madinah, beliau mendapati Rasulullah s.a.w telah meninggal dunia.

Peristiwa tersebut tidak dapat ditanggung oleh Muaz menyebabkan beliau menangis tersedu-sedu di atas kehilangan Rasulullah s.a.w.

- Setelah Umar bin Al-Khattab r.a dilantik menjadi khalifah, beliau mengutuskan Muaz untuk mendamaikan pertelingkahan yang berlaku di kalangan Bani Kilab.

Keberangkatan Muaz ke Syam untuk mengajar Al-Quran:


Pada zaman pemerintahan Khalifah Umar r.a juga berlaku peristiwa di mana gabenor Syam telah menghantar Yazid bin Abi Sufian meminta daripada Umar r.a supaya menghantar seorang tenaga pengajar kepada penduduk Syam. Lalu Umar memanggil Muaz bin Jabal, Ubadah bin As-Somit, Abu Ayub AlAnsariy, Ubai bin Kaab dan Abu Darda' dalam satu majlis. Khalifah Umar berkata kepada mereka: "Sesungguhnya saudara kamu di negeri Syam telah meminta bantuan daripada aku supaya menghantar sesiapa sahaja yang boleh mengajar Al-Quran kepada mereka dan memberikan kefahaman kepada mereka tentang agama Islam. Oleh yang demikian bantulah aku untuk mendapat tiga orang dari kalangan kamu semoga Allah merahmati kamu. Sekiranya kamu ingin membuat pengundian, kamu bolehlah membuat undian, jika tidak aku akan melantik tiga orang dari kalangan kamu".
Lalu mereka menjawab: "Kami tidak akan membuat pengundian memandangkan Abu Ayub telah terlalu tua manakala Ubai pula sentiasa mengalami kesakitan dan yang tinggal hanya kami bertiga sahaja". Kemudian Umar berkata kepada mereka: "Kamu mulakanlah tugas kamu di Hims, sekiranya kamu suka dengan keadaan penduduknya, bolehlah salah seorang daripada kamu tinggal di sana. Kemudian salah seorang daripada kamu pula hendaklah pergi ke Damsyik dan seorang lagi pergi ke Palestin". Lalu mereka bertiga keluar ke Hims dan mereka meninggalkan Ubadah bin As-Somit di sana, Abu Darda' pergi ke Damsyik manakala Muaz bin Jabal pula terus berlalu pergi ke Palestin.

Kematian beliau: 

Muaz bin Jabal berada di Palestin sehinggalah beliau diserang wabak. Ketika hampir mati beliau berkata: "Selamat datang wahai kematian! Selamat datang kepada tetamu yang tak kunjung tiba dan selamat datang kepada kekasih yang datang setelah sekian lama dirindukan!". Kemudian beliau melihat ke langit dan berkata: "Wahai Tuhanku! Sesungguhnya Engkau mengetahui bahawa aku tidak menyukai dunia apatah lagi untuk berada kekal di dalamnya selama-lamanya menanam pokok-pokok dan mengairi sungai, tetapi segala-galanya itu hanyalah sekadar untuk menghilangkan kehausan di kawasan-kawasan yang kekeringan serta mengharungi saat-saat kesusahan dan mendekati ulama-ulama dengan menunggang ke majlis-majlis zikir. Oleh yang demikian terimalah diriku ini wahai Tuhanku dengan kebaikan sebagaimana Kamu menerima diri seseorang yang beriman". Kemudian beliau meninggal dunia. Semoga Allah mencucuri rahmat-Nya kepada beliau.
 Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji, dengan nama julukan “Abu Abdurahman”, dilahirkan di Madinah. Ia memeluk Islam pada usia 18 tahun, Ia mempunyai keistimewaan sebagai seorang yang sangat pintar dan berdedikasi tinggi. Dari segi fisik, ia gagah dan perkasa. Allah juga mengaruniakan kepadanya kepandaian berbahasa serta tutur kata yang indah, Muadz termasuk di dalam rombongan yang berjumlah sekitar 72 orang Madinah yang datang berbai’at kepada Rasulullah. Setelah itu Muadz kembali ke Madinah sebagai seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Ia berhasil mengislamkan beberapa orang sahabat yang terkemuka seperti misalnya Amru bin Al-Jamuh. Pada waktu Nabi Muhammad berhijrah ke Madinah, Muadz senantiasa berada bersama dengan Rasulullah sehingga ia dapat memahami Al-Qur’an dan syariat-syariat Islam dengan baik. Hal tersebut membuatnya di kemudian hari muncul sebagai seorang yang paling ahli tentang Al-Qur’an dari kalangan para sahabat. Ia adalah orang yang paling baik membaca Al-Qur’an serta paling memahami syariat-syariat Allah. Oleh sebab itulah Rasulullah memujinya dengan bersabda, “Yang kumaksud umatku yang paling alim tentang halal dan haram ialah Muadz bin Jabal.” (Hadist Tirmidzi dan Ibnu Majah). Ia meriwayatkan hadist dari Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar dan meriwayatkan darinya ialah Anas bin Malik, Masruq, Abu Thufail Amir bin Wasilah. Selain itu, Muadz merupakan salah satu dari enam orang yang mengumpulkan Al-Qur’an pada zaman Rasulullah.
Setelah kota Makkah didatangi oleh Rasulullah, penduduk Makkah memerlukan tenaga-tenaga pengajar yang tetap tinggal bersama mereka untuk mengajarkan syariat agama Islam. Rasulullah lantas menyanggupi permintaan tersebut dan meminta supaya Muaz tinggal bersama dengan penduduk Makkah untuk mengajar Al-Qur’an dan memberikan pemahaman kepada mereka mengenai agama Allah. Sifat terpuji beliau juga jelas terlihat manakala rombongan raja-raja Yaman datang menjumpai Rasulullah guna meng-isytihar-kan keislaman mereka dan meminta kepada Rasulullah supaya mengantarkan tenaga pengajar kepada mereka. Begitupun maka Rasulullah memilih Muaz untuk memegang tugas itu bersama-sama dengan beberapa orang para sahabat.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam mempersaudarakanya dengan Abdullah bin Mas’ud. Nabi mengirimnya ke negeri Yaman untuk mengajar, memberikan pengetahuan agama dan mendidik sampai hapal al-Quran kepada penduduk Yaman. Rasulullah mengantarnya dengan berjalan kaki sedangkan Mu’adz berkendaraan, dan Nabi bersabda kepadanya: ” Sungguh, aku mencintaimu“.
Lantas beliau mewasiatkan kepada Muadz dengan bersabda : “Wahai Muadz! Kemungkinan kamu tidak akan dapat bertemu lagi dengan aku selepas tahun ini“,Kemudian Muadz menangis karena terlalu sedih untuk berpisah dengan Rasulullah Shallalahu alaihi wassalam. Selepas peristiwa tersebut ternyata Rasulullah wafat dan Muadz tidak lagi dapat melihatnya.

Muadz sangat terpukul atas berpulangnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Ia bahkan menangis tersedu-sedu selama beberapa saat. Namun ia segera menyadari tanggung jawab dakwah di pundaknya. Ia senantiasa menjaga ghirah (semangat) keislamannya agar tidak surut. Setelah Umar bin Khattab dilantik menjadi khalifah, ia mengutus Muaz untuk mendamaikan pertikaian yang terjadi di kalangan Bani Kilab. Ia pun sukses menjalankan misi itu.
Pada zaman pemerintahan Khalifah Umar pula, gubernur Syam (sekarang Mesir) mengirimkan Yazid bin Abi Sofyan untuk meminta guru bagi penduduknya. Lalu Umar memanggil Muadz bin Jabal, Ubaidah bin As-Shamit, Abu Ayyub Al-Ansary, Ubay bin Kaab dan Abu Darda’ dalam satu majelis. Khalifah Umar berkata kepada mereka : “Sesungguhnya saudara kamu di negeri Syam telah meminta bantuan daripada aku supaya mengantar siapa saja yang dapat mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka dan memberikan pemahaman kepada mereka tentang agama Islam. Oleh karena itu bantulah aku untuk mendapat tiga orang dari kalangan kamu semoga Allah merahmati kamu. Sekiranya kamu ingin membuat pengundian, kamu boleh membuat undian, jika tidak aku akan melantik tiga orang dari kalangan kamu.”
Lalu mereka menjawab : “Kami tidak akan membuat pengundian dengan memandang bahwa Abu Ayyub telah terlalu tua, sedang Ubay pun senantiasa mengalami kesakitan, dan yang tinggal hanya kami bertiga saja.” Kemudian Umar berkata kepada mereka : “Kalian mulailah bertugas di Hims, sekiranya kamu suka dengan keadaan penduduknya, bolehlah salah seorang diantara kamu tinggal di sana. Kemudian salah seorang daripada kamu hendaknya pergi ke Damsyik, dan seorang lagi pergi ke Palestina.”
Lalu mereka bertiga keluar ke Hims dan mereka meninggalkan Ubaidah bin As-Shamit di sana, Abu Darda’ pergi ke Damsyik. Muaz bin Jabal terus berlalu pergi ke negara Urdun. Muaz bin Jabal berada di Urdun pada saat negeri tersebut tengah terserang wabah penyakit menular.
Mu’adz bin Jabal wafat tahun 18 H ketika terjadi wabah hebat di Urdun tersebut, waktu itu usianya 33 tahun 


2013@abdkadiralhamid

Friday, May 24, 2013

Sebuah Kisah di Balik Isra’ Mi’raj Nabi SAW


Sebuah Kisah di Balik Isra’ Mi’raj Nabi SAW


Kisah percakapan, atau lebih tepat dikatakan perdebatan antara mahluk Allah yang bernama bumi dan langit juga menjadi salah satu sebab Allah memperjalankan dan mengundang Nabi SAW untuk menembus langit demi langit untuk langsung menghadap kepada-Nya. Percakapan yang sifatnya membanggakan diri ini mungkin mirip dengan kebanggaan Iblis ketika ia menolak perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam AS, “Saya lebih baik daripada dia…dst…!!”




Perbedaan mendasarnya, kalau Iblis membanggakan dzat dan amal kebaikan dirinya yang dengan itu ia menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam, sebagai bentuk penghormatan, bukan peribadatan. Sedangkan kebanggaan langit dan bumi, sebagai bentuk syukur atas karunia dan kelimpahan yang diberikan Allah kepadanya. Karena itulah iblis menuai laknat dan kutukan Allah hingga hari kiamat tiba akibat kebanggaannya yang berlebihan, sementara Allah justru menambah karunianya kepada langit, yang kalah dalam perdebatannya dengan bumi.




Semua itu berawal ketika bumi membanggakan dirinya kepada langit, “Aku lebih baik daripada dirimu, karena Allah menghiasi aku dengan berbagai negeri, lautan, sungai-sungai, pohon-pohon, gunung-gunung dan lain-lainnya.”




Langit berkata kepada bumi, “Justru aku yang lebih baik dari dirimu, Allah telah menghiasi diriku dengan matahari, bintang-bintang, bulan, cakrawala, planet-planet dan lain sebagainya.”




Bumi berkata lagi, “Padaku terdapat rumah (Baitullah, Ka’bah) yang selalu dikunjungi oleh para Nabi, para Rasul, para wali dan orang-orang mukmin secara umum, dan mereka selalu berthawaf kepadanya!!”




Langit tidak mau kalah, ia berkata, “Padaku ada Baitul Ma’mur, di mana para malaikat selalu berthawaf kepadanya. Padaku juga terdapat surga, yang merupakan tempat ruh para Nabi, ruh para Rasul, ruh para wali dan semua ruh orang-orang yang saleh!!”




Bumi berkata lagi, “Sesungguhnya pimpinan para rasul dan penutup para nabi, Kekasih Allah, Tuhan semesta alam, seorang rasul yang paling mulia dari segala yang ada, Muhammad SAW, yang semoga salam dan penghormatan selalu terlimpah kepadanya, ia tinggal dan menetap pada diriku, dan ia menjalankan syariatnya di atas punggungku!!”




Mendengar perkataan bumi yang membanggakan akan keberadaan Nabi SAW pada dirinya, langit tidak bisa memberikan argumentasi tandingan yang sepadan. Ia tahu bahwa Nabi SAW adalah mahluk termulia dan yang paling dicintai oleh Allah, dan faktanya tidak pernah sekalipun Nabi SAW menjejakkan kaki pada dirinya, apalagi membuat aktivitas-aktivitas yang membekas dan memberi kesan tersendiri pada beliau. Langit hanya terdiam, merasa kalah dan terpojok dengan dibandingkan posisi bumi.




Tetapi kemudian langit menghadapkan diri kepada Allah dan berdoa, “Ya Allah, Engkau selalu mengabulkan segala permintaan hamba-hamba-Mu yang dalam keadaan terdesak atau terjepit. Ya Allah, saat ini aku adalah hamba-Mu yang dalam keadaan terdesak dan tidak dapat memberikan jawaban yang sepadan kepada bumi!!”




Allah memperkenankan doa langit tersebut. Saat itu adalah tanggal duapuluh tujuh Rajab, Allah berfirman, “Wahai Jibril, hentikan dahulu tasbihmu pada malam ini!! Wahai Izrail, pada malam ini janganlah engkau mencabut ruh terlebih dahulu!!”




Jibril berkata, “Ya Allah, Apakah kiamat telah tiba masanya!!”




Memang, Jibril dan malaikat-malaikat lainnya tidak akan pernah berhenti melantunkan Tasbih kepada Allah, apapun keadaannya, kecuali jika hari kiamat telah tiba. Allah berfirman lagi, “Tidak, wahai Jibril, tetapi pergilah engkau ke surga, bawalah salah satu buraq di sana dan bawalah Muhammad datang menghadap-Ku malam ini!!”




Jibril segera memenuhi perintah Allah, ia datang ke surga dan dan melihat empatpuluh ribu Buraq sedang merumput di padang rumput surga, pada kening-kening buraq itu tertulis nama Muhammad SAW. Tampak satu buraq menunduk dan air matanya terus mengalir, tidak merumput seperti yang lainnya. Jibril menghampirinya dan berkata, “Apa yang terjadi dengan dirimu, wahai buraq!!”




Buraq itu berkata, “Wahai Jibril, sejak empatpuluh tahun yang lalu aku mendengar nama Muhammad SAW, dan hatiku terbakar rindu untuk bisa bertemu dengannya. Kerinduan itu begitu meliputiku sehingga aku tidak bisa lagi makan dan minum, kecuali aku telah bertemu dengan beliau!!”




Jibril tersenyum dan berkata, “Aku akan menyampaikan dirimu kepada orang yang selama ini kamu rindukan. Malam ini juga engkau akan bertemu dengan Muhammad SAW!!”




Kemudian Jibril memasang pelana dan tali pengikat dari sutera surga pada buraq itu dan membawanya turun ke bumi. Setelah selesainya peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi SAW, langit bisa memberikan argumentasi kepada bumi dan ia merasa kedudukannya cukup sejajar dengan bumi.


abdkadiralhamid@2013

PENGARUH BA’ALAWI DI INDONESIA

PENGARUH  BA’ALAWI  DI INDONESIA

Gustav Lebon mengatakan, “Bahwa kami tidak melihat adanya suatu bangsa yang mempunyai pengaruh yang nyata seperti bangsa Arab. Semua bangsa, yang bangsa Arab berhubungan dengannya pasti mengikuti kebudayaan Arab. Ketika bangsa Arab hilang dari panggung sejarah, maka para tirani berkuasa, seperti bangsa Turki dan Mongol, atas tradisi- tradisi mereka”. 
   


Menurut ‘Alwi bin Thahir Al-Haddad, memang benar bahwa kebudayaan Arab telah mati, tetapi kini Dunia Islam yang membentang dari daerah-daerah pesisir Samudra Atlantik hingga India, dan Laut Tengah hingga daerah padang pasir, tidak dikenal kecuali sebagai pengikut Muhammad dan bahasanya. Para Syarif dari Hadhramaut, dari keturunan Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Imam Ja’far Al-Shadiq, termasuk para da’i yang menyebarkan agama Islam di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.
Muhammad Ba Mathraf, seorang ahli sejarah Hadhramaut, melihat kaum Ba ‘Alawi merupakan kelompok terbesar dari kabilah Hadhrami yang hijrah ke Asia dan Afrika.
Adapun hasil nyata dalam penyiaran agama Islam (ke Indonesia) adalah dari orang-orang Sayyid Syarif. Dengan perantara mereka agama Islam tersiar diantara raja-raja Hindu di Jawa dan lainnya. Selain dari mereka ini, walaupun ada juga suku-suku lain Hadhramaut (yang bukan golongan Sayyid Syarif), tetapi mereka ini tidak meninggalkan pengaruh sebesar itu. Hal ini disebabkan mereka (kaum Sayyid) adalah keturunan dari tokoh pembawa Islam (Nabi Muhammad Saw).”
Van den Berg juga menulis dalam buku yang sama (hal 192-204) : “Pada abad ke-15, di Jawa sudah terdapat penduduk bangsa Arab atau keturunannya, yaitu sesudah masa kerajaan Majapahit yg kuat itu. Orang-orang Arab bercampur-gaul dengan penduduk, dan sebagian mereka mempunyai jabatan-jabatan tinggi. Mereka terikat dengan pergaulan dan kekeluargaan tingkat atasan. Rupanya pembesar-pembesar Hindu di Kepulauan Hindia telah terpengaruh oleh sifat-sifat keahlian Arab, oleh karena sebagian besar mereka berketurunan pendiri Islam ( Nabi Muhammad Saw). Orang-orang Arab Hadhramaut membawa kepada orang- orang Hindu pikiran baru yg diteruskan oleh peranakan-peranakan Arab, mengikuti jejak nenek moyangnya.”
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara, untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, dan jg pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Para Walisongo adalah intelektual yg menjadi pembaharu masyarakat pada masanya, keturunan mereka bersambung hingga Nabi Muhammad Saw (kecuali Sunan Kali Jaga), dan masih ada hubungan keluarga dengan para syarif maupun sayyid Hadhramaut.

  THARIQAH ALAWIYYAH DI KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH
Habib Zain Al-Aydrus dari Surabaya merupakan ulama yang menyebarkan tarikat ini di Kalimantan selatan, sekaligus sebagai peletak dasarnya. Ajaran tarikat Alawiyah ini diambil dari berbagai macam tarikat yang berkembang di Indonesia, oleh Habib zain Al-Aydrus amalan dan ajaran tarikat-tarikat tersebut dipadukan, sehingga  setelah mendapatkan restu dari para Habib yang mengajarkan ajaran tarikat yang ada, seperti tarikat Sammaniyah,Naqsyabandiyah dan sebagainya (tarikat  mu’tabarah), kemudian beliau menamakan tarikat ini dengan nama tarikat Alawiyah.

Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, ajaran ini disebarkan oleh seoarang ulama yang cukup terkenal di daerah tersebut yaitu KH. Muhammad Bachiet, putra dari pasangan Haji Ahmad Mughni (seorang tokoh ulama yang berasal dari Nagara Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang popular beliau disebut dengan sebutan H. Amat Nagara) dan Hj. Zainab, dilahirkan pada tanggal 1 januari 1966 di  Tela-ga Air Mata (Kampung Arab). Beliau mempunyai seorang istri yang bernama Hj. Sakdiah dan tiga orang anak.
Sebagai seorang ulama dan guru thariqah Alawiyyah, beliau juga mengarang dua buah buku/kitab yang berkenaan dengan tasawuf, yaitu pertama, kitab Nurul Muhibbin Fi Tarjamah Thariqat Al Arifin min Sadatina Al Alawiyyin, yang membahas tentang ajaran-ajaran dan wirid yang harus dilakukan oleh seorang jamaah thariqah Alawiyyah, Kedua, kitab Ampunan Tuhan (Bagi Orang yang Tobat dari Dosa dan Kesalahan).


abdkadiralhamid@2013